Tuesday, December 4, 2007

Dokumentasi QMS (ISO 9001 : 2000)

MENGENAL DOKUMENTASI SISTEM MANAJEMEN MUTU
(Oleh Okasatria Novyanto)

Didalam ISO 9001 : 2000 pada penjelasan tentang Sistem Manajemen Mutu, menerangkan bahwa persyaratan umum untuk suatu organisasi yakni organisasi harus membuat, mendokumentasikan, mengimplementasikan dan memelihara Sistem Manajemen Mutu dan memperbaiki secara berkelanjutan keefektivitasannya dalam hubungannya dengan persyaratan dan Standar Internasional. Organisasi juga harus :
1. Mengidentifikasi proses-proses yang diperlukan untuk sistem manajemen mutu dan aplikasinya pada keseluruhan organisasi.
2. Menentukan urutan dan interaksi dari proses-proses tersebut.
3. Menentukan kriteria dan metode yang diperlukan untuk menjamin bahwa pengoperasian dan pengendalian dari proses-proses tersebut efektif.
4. Menjamin ketersediaan sumber daya dan informasi yang diperlukan untuk menunjang pengoperasian dan pemantauan proses-proses tersebut.
5. Mengimplementasikan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang direncanakan dan melakukan perbaikan yang berkelanjutan terhadap proses-proses tersebut.
Sementara itu korelasinya dengan pendokumentasian, dalam ISO 9001 : 2000 juga menyebutkan tentang peryaratan dokumentasi. Secara umum disebutkan bahwa dokumentasi sistem mutu harus mencakup beberapa hal, yakni :
a. Pernyataan terdokumentasi dari kebijakan mutu dan sasaran mutu.
b. Quality Manual.
c. Prosedur terdokumentasi yang diminta oleh Sistem Manajemen Mutu.
d. Dokumen yang diperlukan oleh organisasi untuk menjamin efektifitas perencanaan pengoperasian dan pengendalian proses-prosesnya.
e. Catatan mutu yang diminta oleh Standar Internasional.
Dalam hal ini ada dua hal yang akan menjadi fokus pembahasan yakni adanya Quality Manual dan Pengendalian Dokumen.
Pada item Quality Manual (ISO 9001 : 2000) menyebutkan bahwa organisasi harus membuat dan memelihara Quality Manual yang mencakup :
1. Lingkup dan Sistem Manajemen Mutu termasuk detail dan justifikasi untuk setiap pengecualian.
2. Prosedur terdokumentasi yang dibuat untuk Sistem Manajemen Mutu atau acuannya.
3. Uraian mengenai interaksi antara proses-proses dalam Sistem Manajemen Mutu.
Sedangkan pada Pengendalian Dokumen menyatakan bahwa Dokumen yang diperlukan untuk Sitem Manjemen Mutu harus dikendalikan. Prosedur terdokumentasi harus dibuat untuk menjelaskan pengendalian yang diperlukan, hal ini bertujuan :
a. Untuk menyetujui dokumen dan kelengkapannya sebelum diterbitkan.
b. Untuk meninjau (review), memperbaiki (revision) seperlunya dan menyetujui kembali dokumen.
c. Untuk memastikan bahwa perubahan dan status revisi terkini dokumen dapat diidentifikasi dan jelas.
d. Untuk memastikan tersedianya versi yang relevan dari dokumen yang berlaku ditempat pemakaian.
e. Untuk memastikan bahwa dokumen selalu dapat dibaca, mudah diidentifikasi dan mudah diambil.
f. Untuk memastikan bahwa dokumen yang berasal dari luar teridentifikasi dan distribusinya terkendali.
g. Untuk mencegah pemakaian tidak sengaja dari dokumen yang telah kadaluarsa dan memberikan identifikasi yang sesuai padanya jika dokumen tersebut tetap disimpan untuk suatu tujuan.

Pengertian Prosedur Mutu
Pada Format Prosedure Mutu (prosedur kerja) perlu dincantumkan beberapa informasi yang diperlukan, misalnya :
1. TUJUAN
Yakni suatu pernyataan singkat yang menerangkan tentang alasan atau mengapa prosedur ini diberlakukan dan apa yangg harus dicapai.
2. RUANG LINGKUP
Yakni suatu pernyatan singkat yang menerangkan tentang kegiatan perusahaan (organisasi) yang dicakup dalam prosedur tersebut.
3. DEFINISI
Yakni suatu daftar keterangan dari singkatan atau terminologi atau istilah khusus yang digunakan dalam prosedur tersebut.
4. DOKUMEN PENDUKUNG
Yakni suatu daftar dari dokumen lain, misalnya : Manufacturing Procedure Standard, Work Instruction, Peraturan Pemerintah, Peraturan Perusahaan, Purchase Spesification, Drawing, Manual Book, dll yang berhubungan dengan prosedur tersebut.
5. RINCIAN PROSEDUR
Yakni suatu uraian tentang langkah demi langkah dari setiap tahapan proses atau kegiatan.
6. CATATAN MUTU
Merupakan suatu daftar hasil kegiatan yang dituangkan kedalam bentuk dokumen yang berasal dari pemilik proses atau dari unit kerja lain ataupun dari luar perusahaan yang disimpan oleh pemilik proses (dalam bentuk hard copy maupun soft copy)
7. KRITERIA KEBERHASILAN
Yakni suatu uraian mengenai parameter secara kuantitatif maupun kualitatif atas keberhasilan pelaksanaan prosedur yang dikaitkan dengan tujuan prosedur itu sendiri.
8. CATATAN PERUBAHAN
Merupakan suatu uraian ringkas mengenai perubahan yang terjadi antara prosedur yang berlaku dengan prosedur yang telah revisi sebelumnya.

Contoh Prosedur Mutu 1. TUJUAN
Memberikan penjelasan mengenai proses penanganan permintaan pelanggan (customer request) untuk memastikan bahwa produk yang mereka beli sudah RoHS Compliance.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku mulai dari penerimaan permintaan pelanggan (customer request) sampai dengan permintaan pelanggan (customer request) tersebut dapat terpenuhi.
3. DEFINISI
RoHS = Restricted of Hazardous Substances
IPQ = Initial Part Qualifying
4. DOKUMEN PENDUKUNG
- Manual Guideline for Chemical Substance Contained in Product (BPC-01-GL01)
- Buku Daftar Permintaan Pengechekan RoHS oleh Pelanggan (BQA-01-FI01)
- Form IPQ (BQA-01-FI02).)
5. RINCIAN PROSEDUR
5.1 Staf QA Engineering menerima permintaan pelanggan (customer request) untuk melakukan pengechekan RoHs baik yang berasal dari pelanggan langsung maupun dari kantor pusat (Ok@ Engineering Corporation) dalam bentuk e-mail, Fax maupun melalui telepon dan mencatatnya di Buku Daftar Permintaan Pengechekan RoHSPelanggan. Data yang dicatat antara lain : Nama Pelanggan, Alamat Pelanggan, Produk yang akan di Check, Perkiraan produk yang akan dichek akan diterima, dll.
5.2 Staf QA Engineering akan menyerahkan daftar tersebut kepada Manager QA, kemudian Manager QA menugaskan staf IPQ (Initial Part Qualifying) untuk segera menindaklanjuti.
5.3 Staf IPQ akan melakukan pengujian dan mencatat hasil pengechekan tersebut kedalam form IPQ (BQA-01-FI02). Dalam hal pengechekan produk, Staf IPQ akan berkoordinasi dengan Staf QA Engineering perihal aktual produk yang akan dichek.

5.4 Hasil pengechekan tersebut akan didistribusikan ke Departemen Accounting, Departemen Purchasing dan Departemen QA.
5.5 Dan seterusnya ...... Dan seterusnya ......

6. CATATAN MUTU
RoHS Compliance Material Certification
7. KRITERIA KEBERHASILAN
Tanggapan dari pelanggan terhadap Kualitas pelayanan pengechekan RoHS.
8. CATATAN PERUBAHAN
Belum ada perubahan
Contoh Instruksi Kerja (Work Instruction) 1. PELAKSANA
Staf IPQ (Initial Part Qualifying)
2. RINCIAN INSTRUKSI KERJA
2.1 Hidupkan saklar untuk menghidupkan mesin yang posisinya berada disebelah kanan mesin.
2.2 Hidupkan PC-komputer.
2.3 Klik program EDX yang ada display monitor.
2.4 Setelah mengklik program itu akan kelihatan daftar program, kemudian klik program Maintenance.
2.5 Didalam program perawatan, klik initial instrument.
2.6 Atur instrument set up dan pilih 'ON" pada monitor and simpan untuk kondisi ini.
2.7 Kemudian letakkan part yang akan dicheck pada tempat kerja mesin dengan membuka penutup mesin dibawah.
2.8 Kilik analysis pada daftar dan plih "quantitative condition" dan klik nama sampel untuk membuat nama dari analisis.
2.9 jika sampel yang akan dicheck metal (stamping) pilih brass 3 mm atau 10 mm dan jika moulding pilih PE 3 mm atau 10 mm.
2.10 Jika kita ingin mengecheck kertas, plating, polymer dan yang lainnya pilih qual quantitative.
2.11 Untuk Assy part set up sub-material harus dipisahkan dan dicheck menggunakan X Ray satu persatu.
2.12 Kemudian pilih analysis dan mesin akan belerja untuk menganalisis part. Ketika analisis dimulai penutup mesin akan otomatis tertutup dan setelah analisis selesai penutup akan otomatis terbuka dengan sendirinya.
2.13 Setelah analisis selesai anda akan melihat tampilan data seperti dibawah ini.
2.14 Kemudian anda akan melihat data seperti dibawah ini. 2.15 Dan seterusnya ...... Dan seterusnya ......
3. CATATAN PERUBAHAN
Belum ada
Pengendalian Dokumentasi
Sebelum memulai untuk menyusun suatu dokumen merupakan suatu hal yang penting untuk menetapkan terlebih dahulu mengenai urutan atau hirarki penyusunan. Meskipun pada dasarnya didalam Standar ISO 9001 : 2000 hanya mensyaratkan adanya personel yang meninjau (reviewed) dan yang mengesahkan (approved). Namun ada baiknya jika dibuat tiga tingkat seperti contoh dibawah ini.

Pengendalian Dokument
Format atau lay out dokumen dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan atau selera.
Identifikasi Dokument
Distribusi Dokument
a. TERKENDALI (CONTROLED)
Dokumen yang tersedia diunit kerja dimana proses yang mempengaruhi mutu berlangsung.
b. TAK TERKENDALI (UNCONTROLED)
Dokumen yang didistribusikan kepada pihak lain (internal atau eksternal) dianggap perlu diberikan. Kecuali Pedoman Mutu, dokumen lain sangat disarankan untuk tidak didistribusikan secara TAK TERKENDALI.
Persyaraan Minimum Standard Prosedur
1. Pengendalian Dokumen
2. Pengendalian Rekaman
3. Audit Internal
4. Pengendalian Produk yang tidak sesuai
5. Tindakan Koreksi (Correction Action Report)
6. Tindakan Pencegahan
7. Pembelian
8. Proses berkaitan dengan Pelanggan
9. Design dan pengembangan (Development)
10. Produksi dan penyediaan jasa
11. Kepuasan pelanggan (Customer satisfication)
12. Pemantauan dan pengukuran Produk ataupun Proses
13. Analisa Data


Mengenal FMEA (QS : 9000 FMEA Third Edition)

PENGENALAN POTENTIAL FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS
Oleh Okasatria Novyanto

Definisi FMEA
Secara Etimologi, FMEA tersusun dari kata Failure (Kegagalan) Mode (Bentuk) Effect (Akibat) and Analysis (Analisa).
Sedang secara epistimologi, definisi FMEA sebagaimana disebutkan dalam QS : 9000 ialah merupakan suatu pendekatan sistematis untuk :
1. Mengenal dan mengevaluasi potensi-potensi kegagalan dari suatu produk (proses) dan akibat dari kegagalan yang ditimbulkannya.
2. Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mengeliminasi (menghilangkan) atau mengurangi peluang dari potensi kegagalan yang terjadi.
3. Mendokumentasikan proses secara keseluruhan.
Jenis FMEA
Suatu produk industri (misalnya : Thumb Drive atau Flash Disc, Lemari ES, Hand Phone, dll) tidak akan mungkin langsung diproduksi secara massal (Mass Production) tanpa melalui sebuah proses perancangan (Design) terlebih dahulu. Dari logika sederhana ini dapat disimpulkan bahwa FMEA itu perlu dilakukan di tahapan-tahapan :
1. Design (Perancangan)
FMEA pada tahapan ini akan difokuskan pada rancangan produk dan pengembangannya sebelum diproduksi secara massal sehingga lebih dikenal dengan Design FMEA (DFMEA).
2. Process (Proses)
FMEA pada tahapan ini akan berorientasi pada rancangan proses dan pengembangannya dimana sudah berlangsung produksi secara massal yang didalamnya terdapat bebeapa potensi kegagalan. FMEA pada tahapan ini dikenal dengan Process FMEA (PFMEA).
Rangkaian Potential Failure Mode and Effect Analysis Prinsip UmumPerhitungan Risk Priority Number (RPN)
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya FMEA merupakan suatu analisa potensi-potensi kegagalan yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka penilaian (Score) dimana score tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan seluruh anggota tim FMEA. Dalam hal ini tidak ada sebuah ketentuan baku yang mengatur tentang standar penilain karena masing-masing perusahaan mempunyai kewenangan dalam membuat penilain (score) tetapi prinsip penilaiannya adalah sama.Dan inti dari proses penilaian ini (scoring) adalah untuk menentukan angka Risk Priority Number (RPN) dimana RPN merupakan hasil kali dari Severity of effect, Possible failure dan likelihood detection.
Keuntungan Proses FMEA
1. Meningkatkan ketahanan (Quality-red) yang menyangkut proses untuk menghasilkan suatu produk.
2. Mengidentifikasi tahapan-tahapan proses (station-station) dimana resiko kegagalan yang tinggi dapat terjadi.
3. Mengidentifikasi variable-variable proses yang perlu untuk dikontrol.
4. Bertindak sebagai platform (Sarana) untuk mendiskusikan sebab-sebab suatu bentuk kegagalan dan akibat yang ditimbulkannya.
5. Menyediakan suatu kerangka untuk kemajuan yang berkelanjutan pada proses produksi.
Persyaratan FMEA
a. Memahami karakteristik produk, proses produksi ataupun jasa dengan melihat masalah secara menyeluruh dengan baik. Dalam hal ini diperlukan Drawing, Purchase Specifications, Flow Chart (aliran proses), Standard Operasional Procedure, dll.
b. Mengetahui keinginan, persyaratan dan kebutuhan customer (Voice of customers).
c. Pemahaman yang jelas dan memadahi terhadap tugas dan tanggung jawab dari tim FMEA mulai dari proses analisa, rekomendasi dan implementasi tindakan perbaikan.
d. Peran dan tanggung jawab yang tergambar dengan baik untuk setiap anggota tim FMEA.
Pendekatan Tim FMEA
1. Kerja sama antar anggota tim yang senantiasa perlu ditingkatkan dan dipelihara dengan baik.
2. Ketrampilan dalam pengelolalan Project yang perlu selalu dikembangkan.
3. Dukungan positip dan komitmen dari jajaran Manajement.
4. Ketersediaan tenaga ahli yang dapat memberikan masukan dan kontribusi dalam Project FMEA
Tahapan-Tahapan Proses FMEA
Tahapan 1 : Buat Kepala Form FMEA
Pada tahap ini terdapat aktivitas sebagai berikut :
- Menggambarkan Ruang lingkup FMEA.
- Mengidentifikasi anggota tim, customer dan tenaga ahli (jika diperlukan).
- Pengembangan tugas dan tanggung jawab serta peran untuk anggota tim.
Tahapan 2 : Catat dan tulis bentu potensi-potensi kegagalan dan hitung tingkat keparahannya (Severity) atas akibat yang ditimbulkannyaTahapan 3 : Catat dan tulis potensi-potensi penyebab dari kegagalan


Tahapan 4 : Menganalisa kontrol Proses yang sedang berlangsung baik kontrol yang bersifat pencegahan maupun kontrol yang bersifat pendeteksian. Setelah itu lakukan penilaian.

Tahapan 5 : Menghitung RPN (Risk Priority Number)
RPN = Severity X Occurrence X Detection
Tahapan 6 : Merekomendasikan Corrective Action (Tindakan Perbaikan) yang mencakup penanggung jawab (Person In Charge), Batas waktu (Target completion Date) dan Tindakan yang telah diambil tersebut harus dicatat. Setelah itu dilakukan perhitungan ulang RPN (Recalculating RPN)

Pengenalan Internal Audit (ISO 19011 : 2002)

PENGENALAN INTERNAL AUDIT BERDASARKAN ISO 19011 : 2002
(Oleh Okasatria Novyanto)
Anda mungkin pernah mendengar istilah ISO (The International Organization for Standarization). Apalagi bagi anda yang berkompeten dalam bidang Teknik, tentunya istilah tersebut sudah tidak asing lagi. ISO (The International Organization for Standarization) ialah Federasi dunia dari badan-badan standarisasi nasional (badan-badan anggota ISO) yang bertugas menyiapkan Standard Internasional yang biasanya dilakukan melalui komite teknis ISO. Tiap-tiap badan anggota yang berminat dalam subject yang untuknya telah ditetapkan komite teknisnya berhak untuk diwakili pada komite tersebut. Organisasi-organisasi internasional, pemerintah dan non pemerintah bekerjasama dengan ISO juga berpartisipasi dalam pekerjaan tersebut. ISO juga bekerjasama erat dengan Komite Elektronik Internasional (IEC) dalam semua hal mengenai standarisasi Teknik Elektro. Beberapa Internasional Standard yang kita kenal, misalnya :
1. ISO 9001 : QMS –
Requirement
2. ISO 9004 : QMS – Guidelines for Performance Improvement
3. ISO 9000 : QMS – Fundamentals and Vocabulary
4. ISO 19011 : Guideline for Quality and or environmental Management System Auditing (Quality Auditing Standard)
5. dll.
Dalam hal ini, pembahasan akan lebih berorientasi pada ISO 19011 : 2002 sebagai suatu referensi audit standard.
Struktur ISO 19011 : 2002 terdiri atas :
Introduction
1. Scope
2. Normative reference
3. Term and definition
4. Principles of auditing
5. Managing and audit programme
6. Audit activities
7. Competence and evaluation of auditors

Definisi Audit
Dalam ISO 19011 : 2002 dijelaskan bahwa Audit didefinisikan sebagai proses yang sistematis, independen dan terdokumentasi untuk mendapatkan bukti audit dan mengevaluasinya secara obyektif untuk menetapkan sejauh mana kriteria audit telah terpenuhi. Audit dapat juga diterjemahkan sebagai suatu positive reinforcement (kritik yang membangun) terhadap Auditee untuk selalu melakukan perbaikan yang terus menerus (continues improvement).

Jenis-jenis Audit
Ada beberapa jenis audit yang umum dilakukan. Jika ditinjau dari segi Auditor atau orang yang melakukan audit, Audit dikategorikan menjadi :
- Audit oleh pihak pertama, Audit jenis ini lebih dikenal dengan istilah Internal Audit. Audit ini dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari ruang lingkup organisasi itu sendiri. Formasi dan komposisi anggotaan dapat hanya berasal dari satu departemen tertentu saja ataupan lintas departemen.
- Audit oleh pihak kedua, Audit jenis ini lebih dikenal dengan istilah External Audit. Audit ini dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap organisasi, misalnya : Audit yang dilakukan oleh suatu customer terhadap para suppliernya.
- Audit oleh pihak ketiga, Audit jenis ini dilakukan oleh badan atau organisasi yang berada diluar dari kepentingan pihak pertama dan pihak kedua sehingga lebih independen.
Dalam ISO 19011 terdapat beberapa definisi yang perlu diketahui, antara lain :
1. Kriteria Audit, yakni kumpulan kebijakan, prosedure atau persyaratan yang dipakai sebagai acuan.
2. Bukti Audit, yakni catatan-catatan, pernyataan suatu fakta atau informasi lain yang relevan dengan kriteria audit dan dapat diverifikasi. Bukti Audit dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif.
3. Temuan Audit , yakni hasil dari evaluasi bukti audit yang terkumpul terhadap kriteria audit.
4. Konklusi Audit, yakni hasil audit yang disediakan oleh tim Audit setelah mempertimbangkan bukti Audit dan semua temuan Audit.
5. Program Audit, yakni kumpulan satu audit atau lebih yang direncanakan pada waktu tertentu dan untuk tujuan tertentu.
6. Rencana Audit, yakni penjelasan dari kegiatan dan pengaturan Audit di Lapangan.
7. Lingkup Audit, yakni jangkauan dan batasan Audit.
8. Catatan, yakni mencakup penjelasan lokasi, bagian organisasi, kegiatan dan proses serta lama waktu.
Tipe-tipe Audit
1. Adequacy Audit, yakni Menentukan sejauh mana suatu sistem manajemen yang telah terdokumentasi dapat cukup memenuhi persyaratan standard. Dalam hal ini perlu diperhatikan adanya identifikasi dan mencatat area-area mana yang tidak memenuhi standard berdasarkan analisa dokumentasi sehingga perlu adanya pengetahuan yang mendalam terhadap standard.
2. Compliance Audit, yakni Menentukan sejauh mana suatu sistem manajemen yang telah terdokumentasi diterapkan secara berkesinambungan. Dalam hal ini perlu dicatat adanya perbedaan-perbedaan antara penerapan dengan dokumen berdasarkan sample dari kegiatan dan bukti yang objektif.
Permasalahan-permasalahan yang umum dijumpai dalam Internal Audit
1. Auditor belum siap untuk mengaudit, hal ini dapat terjadi misalnya karena Auditor masih baru (belum berpengalaman), Auditor tidak mengerti subyek yang akan diaudit, persiapan yang minim (singkat), dll.
2. Pelaksanaan Audit melebar dan tidak fokus pada materi yang sedang diujikan.
3. Asumsi yang salah dari Auditor bahwa tugas dari Auditor adalah mencari kesalahaan Auditee.
4. Pengambilan Sampel bukti atau evidence yang minim sehingga tidak representatip.
5. Dokumentasi Audit yang tidak efektif dan tidak sistematis
6. Tidak adanya evaluasi terhadap pelaksanaan Audit dan tim Auditor.
7. Kurangnya analisa yang mendalam terhadap fakta yang diketemukan dilapangan. Fakta tersebut hanya dianggap sebagai suatu “temuan kesalahan” atas proses yang sudah berjalan saja bukan sebagai suatu “manifestasi atau perwujudan” dari proses yang selama ini sudah berjalan (terjadi).
8. Kesulitan untuk memberikan bobot pada temuan Audit.
9. dll.
Fungsi dasar dari Internal Audit
Beberapa fungsi dasar dari Internal Audit yang harus diketahui oleh seorang Internal Auditor, antara lain :
a. Sebagai langkah persiapan (suveillance Audit).
b. Untuk mengevaluasi supplier (internal supplier-red)
c. Untuk memastikan kesesuaian antara sistem manajemen dengan pengaturan yang telah direncanakan dalam realisasi produk.
d. Untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Manajemen Lingkungan sesuai dengan tuntutan standard dan persyaratn yang dikembangkan oleh organisasi.
e. Untuk menentukan dan menilai keefektifan pelaksanaan atas penerapan Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Manajemen Lingkungan.
f. Sebagai suatu media untuk melakukan perbaikan (improvement).
g. Sebagai media untuk melakukan penilaian sendiri (Self Audit) sehingga akan menimbulkan corretive action dari Auditee.
h. dll.
Selain beberapa fungsi dasar dari Internal Audit yang telah dikemukakan diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan harus selalu menjadi pegangan dalam Audit, misalnya bahwa Audit selama ini harus senantiasa dijauhkan dari :
- Budaya saling menyalahkan.
- Slogan “Kami puas dapat melawan Auditor”
- Slogan “Saya puas dapat menemukan kesalahan Anda !”
- Slogan “Pusing amat dengan mutu yang penting kita telah memenuhi target produksi, Gitu aja kok repot !”
Perlu dipahami bahwa peningkatan berkesinambungan akan membutuhkan pengukuran dan pengamatan (monitoring) yang berkesinambungan pula dan sebuah evaluasi atas ketidaksesuain merupakan suatu umpan balik yang terbaik untuk perencanaan berikutnya.
Prinsip Audit
Dalam Audit, prinsip yang senantiasa dijunjung tinggi antara lain :
a. Ethical conduct (Etika pelaksanaan) yang merupakan dasar dari jiwa profesionalisme
b. Fair presentation (Penyampain yang adil), merupakan suatu kewajiban untuk melaporkan secara benar dan akurat.
c. Due professional care (Memperhatikan cara kerja yang profesional), hal ini merupakan penerapan dari kepintaran dan keputusan.
d. Independence and objective (Tidak memihak).
e. Evidence (Bukti), Auditor senantiasa berpikir rasional untuk konklusi Audit.
Sehingga secara umum kegiatan Audit merupakan suatu Learning Process dan bukan merupakan suatu kegiatan yang bersifat “penghakiman” yang menggurui.
12 Golden Rules of Auditor
1. Never Challenge a person (Tidak menggurui)
2. Always present a true and fair view (Selalu menampilkan sebuah sisi kebenaran dan adil)
3. Go fact finding No fault finding (Langsung ke pokok permasalahan dan tidak bertele-tele)
4. Use Systemetics methods (Perpikir sistematis)
5. Never lose sight of the product (Selalu “mengejar” suatu ketidakcocokan dengan standard)
6. Find Out the auditee’s interpretation, not yours (Berusaha mencari tahu pemahaman Auditee bukan pemahaman kita atau Auditor)
7. Always be properly prepared (Segala sesuatunya selalu dipersiapkan)
8. Always help the Auditee (Selalu membantu Auditee)
9. Communicate effectively with Auditee (Menjalin komunikasi yang seefektif mungkin dengan Auditee)
10. Find and address the real cause of problem found
11. Always follow up corrective action request (Selalu menindaklanjuti Corrective Action Request)
Pengetahuan dan ketrampilan Umum yang harus dimiliki oleh Auditor
1. Prinsip Audit, prosedur dan teknik Audit.
2. Sistem manajement dan referensi dokumennya
3. Situasi organisasi (Ukuran, struktur, fungsi dan hubungannya)
4. Peraturan dan perundangan yang terkait
Pengetahuan dan ketrampilan Umum yang harus dimiliki oleh Team Leader Auditor
a. Perencanaan Audit
b. Wakil untuk berkomunikasi
c. Mengatur dan mengarahkan anggota tim
d. Mengambil kesepakatan konklusi audit
e. Mencegah dan menyelesaikan konflik
f. Menyiapkan dan menyelesaikan laporan audit
Pengetahuan dan ketrampilan Khusus yang harus dimiliki oleh Auditor Mutu
1. Metode dan Teknis Quality, mencakup : Kosa kata Quality, Prinsip manajemen mutu, Tools dan aplikasinya seperti SPC, FMEA, QC 7 Tools, dll.
2. Produk termasuk proses-proses yang terlibat didalamnya (Istilah, karakteristik proses dan produk)
Pengetahuan dan ketrampilan Khusus yang harus dimiliki oleh Auditor Lingkungan
a. Metode dan Teknik Manajemen Lingkungan, mencakup : Kosa kata Lingkungan, prinsip manajemen lingkungan, Tools (Evaluasi aspek dan damapak lingkungan, Daur Ulang, dll)
b. Ilmu dan Teknologi Lingkungan, mencakup : Dampak kegiatan terhadap lingkungan, Media Lingkungan seperti udara, air dan tanah, serta Ekosistem
c. Aspek dan teknis dari Operasi Lingkungan, mencakup : Metode evaluasi signifikan aspek, Karakteristik kritis proses, Teknologi pencegahan polusi, Aspek dan dampak.

Wednesday, November 28, 2007

Mengenal Metode Pengujian Kekerasan

Pengujian Kekerasan
(Oleh Okasatria Novyanto)

Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force), dalam hal ini bidang keilmuan yang berperan penting mempelajarinya adalah Ilmu Bahan Teknik (Metallurgy Engineering).
Kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian kekerasan, yakni :
1. Brinnel (HB / BHN)
2. Rockwell (HR / RHN)
3. Vikers (HV / VHN)
4. Micro Hardness (Namun jarang sekali dipakai-red)
Pemilihan masing-masing skala (metode pengujian) tergantung pada :
a. Permukaan material
b. Jenis dan dimensi material
c. Jenis data yang diinginkan
d. Ketersedian alat uji

1. Brinnel
Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (speciment). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan bagi material yang memiliki kekerasan Brinnel sampai 400 HB, jika lebih dati nilai tersebut maka disarankan menggunakan metode pengujian Rockwell ataupun Vickers. Angka Kekerasan Brinnel (HB) didefinisikan sebagai hasil bagi (Koefisien) dari beban uji (F) dalam Newton yang dikalikan dengan angka faktor 0,102 dan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) bola baja (A) dalam milimeter persegi. Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan Karbida Tungsten. Jika diameter Identor 10 mm maka beban yang digunakan (pada mesin uji) adalah 3000 N sedang jika diameter Identornya 5 mm maka beban yang digunakan (pada mesin uji) adalah 750 N. Dalam Praktiknya, pengujian Brinnel biasa dinyatakan dalam (contoh ) : HB 5 / 750 / 15 hal ini berarti bahwa kekerasan Brinell hasil pengujian dengan bola baja (Identor) berdiameter 5 mm, beban Uji adalah sebesar 750 N per 0,102 dan lama pengujian 15 detik. Mengenai lama pengujian itu tergantung pada material yang akan diuji. Untuk semua jenis baja lama pengujian adalah 15 detik sedang untuk material bukan besi lama pengujian adalah 30 detik.
2. Vickers
Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap intan berbentuk piramida dengan sudut puncak 136 Derajat yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut. Angka kekerasan Vickers (HV) didefinisikan sebagai hasil bagi (koefisien) dari beban uji (F) dalam Newton yang dikalikan dengan angka faktor 0,102 dan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) bola baja (A) dalam milimeter persegi. Secara matematis dan setelah disederhanakan, HV sama dengan 1,854 dikalikan beban uji (F) dibagi dengan diagonal intan yang dikuadratkan. Beban uji (F) yang biasa dipakai adalah 5 N per 0,102; 10 N per 0,102; 30 N per 0,102N dan 50 per 0,102 N. Dalam Praktiknya, pengujian Vickers biasa dinyatakan dalam (contoh ) : HV 30 hal ini berarti bahwa kekerasan Vickers hasil pengujian dengan beban uji (F) sebesar 30 N per 0,102 dan lama pembebanan 15 detik. Contoh lain misalnya HV 30 / 30 hal ini berarti bahwa kekerasan Vickers hasil pengujian dengan beban uji (F) sebesar 30 N per 0,102 dan lama pembebanan 30 detik.
3. Rockwell
Skala yang umum dipakai dalam pengujian Rockwell adalah :
a. HRa (Untuk material yang sangat keras)
b. HRb (Untuk material yang lunak). Identor berupa bola baja dengan diameter 1/16 Inchi dan beban uji 100 Kgf.
c. HRc (Untuk material dengan kekerasan sedang). Identor berupa Kerucut intan dengan sudut puncak 120 derjat dan beban uji sebesar 150 kgf.
Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap benda uji (speciment) yang berupa bola baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut.

Pengetahuan Bahan Teknik (Dasar)

KEKUATAN BAHAN TEKNIK (DASAR)
(Oleh Okasatria Novyanto)

Kekuatan bahan dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang kekuatan suatu konstruksi, baik mesin (Teknik Mesin) maupun maupun gedung dan bangunan (Teknik Sipil). Suatu konstruksi dapat dikategorikan bagus dan dapat dipertanggung jawabkan (accountable) apabila telah dihitung berdasarkan ilmu kekuatan bahan secara benar.
Dalam ilmu kekuatan bahan akan dipelajari tentang banyak hal misalnya : jenis pembebanan yang diberikan, gaya-gaya yang bekerja didalamnya, tegangan-tegangan yang terjadi, jenis bahan dan kasus pembebanan yang diberikan sampai menentukan tegangan yang diizinkan sehingga seorang Engineer dapat menentukan jenis bahan, dimensi dan mengontrol kekuatan suatu konstruksi mekanik sesuai dengan fungsi dari ilmu kekuatan bahan itu sendiri.
Secara garis besar fungsi dari ilmu kekuatan bahan yakni :
1. Menentukan dimensi yang proporsional (Apabila beban dan bahan diketahui atau ditentukan).
2. Menentukan beban maksimum (Apabila dimensi dan bahan diketahui atau ditentukan).
3. Menentukan bahan yang sesuai atau cocok (Apabila beban dan dimensi diketahui).
4. Mengontrol kekuatan bahan (Apabila beban, dimensi dan bahan diketahui) dengan melakukan comparisson study antara tegangan yang terjadi dengan tegangan yang diizinkan.1.

I. Gaya Dalam
Gaya Dalam ialah gaya yang terjadi didalam suatu elemen konstruksi (batang) sebagai akibat adanya pengaruh gaya dari luar. Gaya dalam diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yakni :
a. Gaya normal (gaya aksial) yakni gaya dalam yang bekerja tegak lurus terhadap penampang potong atau sejajar dengan sumbu batang.
b. Gaya tangensial (gaya melintang) yakni gaya dalam yang bekerja sejajar dengan penampang potong atau tegaklurus terhadap sumbu batang.
II. Pembebanan
Jika ditinjau dari arahnya (beban) dan akibatnya terhadap komponen yang menahannya, pembebanan dikategorikan menjadi 5 jenis, yaitu :
a. Pembebanan Tarik yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan garis sumbu atau tegak lurus terhadap penampang potong berorientasi kerja keluar (menjauh) sehingga mengakibatkan batang atau elemen konstruksi mengalami perpanjangan.
b. Pembebanan Tekan yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan garis sumbu atau tegak lurus terhadap penampang potong berorientasi kerja kedalam (menuju) sehingga mengakibatkan batang atau elemen konstruksi mengalami perpendekan.
c. Pembebanan Bengkok yakni apabila gaya yang bekerja dengan jarak tertentu terhadap penampang potong yang mengakibatkan momen bending pada batang atau elemen konstruksi tersebut.
d. Pembebanan Geser yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan penampang potong atau tegak lurus terhadap garis sumbu yang mengakibatkan elemen kontruksi (batang) mengalami pergeseran.
e. Pembebanan puntir yakni apabila gaya yang bekerja sejajar penampang potong dengan jarak radius tertentu terhadap sumbu batang (garis sumbu) yang mengakibatkan momen puntir .
III. Tegangan
Apabila suatu gaya dalam ditahan oleh penampang batang maka didalam penampang batang tersebut akan mengalami adanya tegangan. Tegangan ialah besarnya gaya yang diberikan per satuan luas penampang. Ditinjau dari arah gaya dalam yang terjadi, tegangan diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Tegangan Normal yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh dari Gaya Normal
b. Tegangan Tengansial yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh Gaya Tangensial
Sedangkan menurut jenis pembebanan yang diberikan, tegangan diklasifikasikan menjadi :
1. Tegangan Tarik
2. Tegangan Geser
3. Tegangan Tekan
4. Tegangan Puntir
5. Tegangan Bengkok
Apabila didalam satu penampang terjadi lebih dari satu jenis tegangan dengan waktu yang bersamaan, dalam hal ini terjadi Tegangan Gabungan yang didefinisikan sebagai penjumlahan dari kuadrat Tegangan (Normal) dengan hasil kuadrat atas konversi tegangan - Tegangan (Tangensial) yang dikalikan tiga. Kemudian hasil penjumlahan tersebut di Akar kuadratkan sehingga akan diperoleh nilai Tegangan Gabungan. Besarnya konversi tegangan tergantung dari jenis dan kasus pembebanan.

Monday, November 26, 2007

Automotive Info - Mengenal Motor Bakar

Mengenal Motor Bakar
(Oleh Okasatria Novyanto)


Motor bakar adalah mesin atau pesawat yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik, yaitu dengan cara merubah energi kimia dari bahan bakar menjadi energi panas, dan menggunakan energi tersebut untuk melakukan kerja mekanik. Energi termal diperoleh dari pembakaran bahan bakar pada masin itu sendiri. Jika ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini (proses pembakaran bahan bakar), maka motor bakar dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu: motor pembakaran luar dan motor pembakaran dalam.

I. Motor pembakaran luar
Pada motor pembakaran luar ini, proses pembakaran bahan bakar terjadi di luar mesin itu, sehingga untuk melaksanakan pembakaran digunakan mesin tersendiri. Panas dari hasil pembakaran bahan bakar tidak langsung diubah menjadi tenaga gerak, tetapi terlebih dulu melalui media penghantar, baru kemudian diubah menjadi tenaga mekanik. Misalnya pada ketel uap dan turbin uap.

II. Motor pembakaran dalam
Pada motor pembakaran dalam, proses pembakaran bahan bakar terjadi di dalam mesin itu sendiri, sehingga panas dari hasil pembakaran langsung bisa diubah menjadi tenaga mekanik. Misalnya : pada turbin gas, motor bakar torak dan mesin propulasi pancar gas.


A. Prinsip Kerja Motor Bensin

Pada motor bensin, bensin dibakar untuk memperoleh energi termal. Energi ini selanjutnya digunakan untuk melakukan gerakan mekanik. Prinsip kerja motor bensin, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : campuran udara dan bensin dari karburator diisap masuk ke dalam silinder, dimampatkan oleh gerak naik torak, dibakar untuk memperoleh tenaga panas, yang mana dengan terbakarnya gas-gas akan mempertinggi suhu dan tekanan. Bila torak bergerak turun naik di dalam silinder dan menerima tekanan tinggi akibat pembakaran, maka suatu tenaga kerja pada torak memungkinkan torak terdorong ke bawah. Bila batang torak dan poros engkol dilengkapi untuk merubah gerakan turun naik menjadi gerakan putar, torak akan menggerakkan batang torak dan yang mana ini akan memutarkan poros engkol. Dan juga diperlukan untuk membuang gas-gas sisa pembakaran dan penyediaan campuran udara bensin pada saat-saat yang tepat untuk menjaga agar torak dapat bergerak secara periodik dan melakukan kerja tetap.

Kerja periodik di dalam silinder dimulai dari pemasukan campuran udara dan bensin ke dalam silinder, sampai pada kompresi, pembakaran dan pengeluaran gas-gas sisa pembakaran dari dalam silinder inilah yang disebut dengan “siklus mesin”. Pada motor bensin terdapat dua macam tipe yaitu: motor bakar 4 tak dan motor bakar 2 tak. Pada motor 4 tak, untuk melakukan satu siklus memerlukan 4 gerakan torak atau dua kali putaran poros engkol, sedangkan pada motor 2 tak, untuk melakukan satu siklus hanya memerlukan 2 gerakan torak atau satu putaran poros engkol.
B. Cara Kerja Motor Bensin 4 Langkah

Torak bergerak naik turun di dalam silinder dalam gerakan reciprocating. Titik tertinggi yang dicapai oleh torak tersebut disebut titik mati atas (TMA) dan titik terendah disebut titik mati bawah (TMB). Gerakan dari TMA ke TMB disebut langkah torak (stroke). Pada motor 4 langkah mempunyai 4 langkah dalam satu gerakan yaitu langkah penghisapan, langkah kompresi , langkah kerja dan langkah pembuangan. B.1. Langkah hisap

Pada gerak hisap, campuran udara bensin dihisap ke dalam silinder. Bila jarum dilepas dari sebuah alat suntik dan plunyernya ditarik sedikit sambil menutup bagian ujung yang terbuka dengan jari (alat suntik akan rusak bila plunyer ditarik dengan tiba-tiba), dengan membebaskan jari akan menyebabkan udara masuk ke alat suntik ini dan akan terdengar suara letupan. Hal ini terjadi sebab tekanan di dalam lebih rendah dari tekanan udara luar. Hal yang sama juga terjadi di mesin, torak dalam gerakan turun dari TMA ke TMB menyebabkan kehampaan di dalam silinder, dengan demikian campuran udara bensin dihisap ke dalam. Selama langkah torak ini, katup hisap akan membuka dan katup buang menutup.
B.2. Langkah kompresi

Dalam gerakan ini campuran udara bensin yang di dalam silinder dimampatkan oleh torak yang bergerak ke atas dari TMB ke TMA. Kedua katup hisap dan katup buang akan menutup selama gerakan tekanan dan suhu campuran udara bensin menjadi naik. Bila tekanan campuran udara bensin ini ditambah lagi, tekanan serta ledakan yang lebih besar lagi dari tenaga yang kuat ini akan mendorong torak ke bawah. Sekarang torak sudah melakukan dua gerakan atau satu putaran, dan poros engkol berputar satu putaran.
B.3. Langkah kerja

Dalam gerakan ini, campuran udara bensin yang dihisap telah dibakar dan menyebabkan terbakar dan menghasilkan tenaga yang mendorong torak ke bawah meneruskan tenaga penggerak yang nyata. Selama gerak ini katup hisap dan katup buang masih tertutup. Torak telah melakukan tiga langkah dan poros engkol berputar satu setengah putaran.
B.4. Langkah buang

Dalam gerak ini, torak terdorong ke bawah, ke TMB dan naik kembali ke TMA untuk mendorong gas-gas yang telah terbakar dari silinder. Selama gerak ini kerja katup buang saja yang terbuka. Bila torak mencapai TMA sesudah melakukan pekerjaan seperti di atas, torak akan kembali pada keadaan untuk memulai gerak hisap. Sekarang motor telah melakukan 4 gerakan penuh, hisap-kompresi-kerja-buang. Poros engkol berputar 2 putaran, dan telah menghasilkan satu tenaga. Di dalam mesin sebenarnya, membuka dan menutupnya katup tidak terjadi tepat pada TMA dan TMB, tetapi akan berlaku lebih cepat atau lambat, ini dimaksudkan untuk lebih efektif lagi untuk aliran gas.


Wednesday, November 14, 2007

Pengetahuan Material Teknik Dasar

PENGETAHUAN MATERIAL TEKNIK DASAR
(Oleh Okasatria Novyanto)

Didalam industri manufaktur tidak akan lepas dengan satu bidang ilmu teknik yang berhubungan dengan material. Secara umum material teknik diklasifikasikan menjadi 2 golongan yakni :
1. Metal (logam)
2. Non Metal (bukan logam)

Metal (logam)
Jika ditinjau dari sudut pandang susunan unsur dasar, metal (logam) dibagi menjadi 2, yakni :
1.1 Logam murni (hanya terdiri satu jenis atom saja), contoh : besi (Fe) murni, tembaga (Cu) murni
1.2 Logam paduan atau metal alloy (terdiri dari dua atau lebih jenis atom)
Logam paduan dibedakan menjadi 3 jenis :
a. Larut padat interstisi (menyisip), yaitu : suatu paduan yang terjadi bila atom yang larut mempunyai diameter yang jauh lebih kecil daripada yang dilaruti, contoh : Pada baja Carbon yang mengalami Nitriding dimana atom Fe (yang dilaruti) mempunyai diameter atom lebih besar bila dibandingkan dengan atom N (yang larut) dengan diameter lebih kecil sehingga menyisip diantara atom Fe.
b. Larut Padat Subtitusi (menggantikan posisi yang dilaruti), yaitu : suatu paduan yang terjadi terutama bila diameter atom yang larut hampir sama dengan diameter atom yang dilaruti, contoh : Pada paduan alumunium (diameter atom Al dan diameter atom Cu hampir sama), pada stainless steel (diameter atom Fe dan diameter atom Cr hampir sama), dll.
c. Senyawa, yaitu : suatu paduan yang terjadi karena adanya ikatan atom yang sangat kuat, contoh : NaCl (Senyawa garam).
Metal juga dapat diklasifikasikan menjadi jenis, yakni :
a. Ferrous (besi)
b. Non Ferrous (bukan besi), contoh : Al dan paduannya, Ni dan paduannya, dll.

Ferrous (besi)
1. Wrought Iron (besi tempa)
Fasa besi tempa berupa ferit (alpha), didalamnya terdapat sisa terak yang masih terperangkap. Terak tersebut banyak mengandung silikat (silikon oksida), bentuknya menyerupai fiber (cukup kuat). Sifat dari besi tempa ini Ulet dan cukup kuat. Contoh komposisi dari besi tempa :
- Carbon : 0.06%
- Mangaan : 0.045%
- Silicon : 0.101%
- Phospor : 0.068%
- Sulfur (belerang) : 0.009%
- Terak (dalan berat) : 1.97%
Besi tempa digunakan pada bangunan kereta api, bangunan kapal laut, industri minyak, tujuan arsitektur, perlengkapan pertanian, dll. Umumnya, pembuatan dari besi tempa ini menggunakan dapur puddle (dapur aduk)
2. Steel (Baja)
Baja (Steel) digolongkan menjadi 2, yakni :
2.1 Carbon steel (baja karbon)
Baja karbon dapat digolongkan menjadi 3 macam, yakni :
-Baja karbon rendah [Kadar Carbon antara 0,1% hingga 0,20%]
-Baja Karbon sedang [Kadar Carbon antara 0,25% hingga 0,55%]
-Baja Karbon tinggi [Kadar Carbon antara 0,55% hingga 1,75%]
Pembagian baja karbon yang lain yakni : baja hipoeutektoid [Kadar Carbon Kurang dari 0,8%], baja eutektoid [Kadar Carbon 0,8%] dan baja hipereutektoid [Kadar Carbon lebih dari 0,8%]. Fasa-fasa padat yang ada didalam baja :
a. Ferit (alpha) : merupakan sel satuan (susunan atom-atom yang paling kecil dan teratur) berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan), Ferit ini mempunyai sifat : magnetis, agak ulet, agak kuat, dll.
b. Autenit : merupakan sel satuan yang berupa Face Centered Cubic (FCC =kubus pusat muka), Austenit ini mempunyai sifat : Non magnetis, ulet, dll.
c. Sementid (besi karbida) : merupakan sel satuan yang berupa orthorombik, Semented ini mempunyai sifat : keras dan getas.
d. Perlit : merupakan campuran fasa ferit dan sementid sehingga mempunyai sifat Kuat.
e. Delta : merupakan sel satuan yang berupa Body Centered Cubic (BCC=kubus pusat badan).
2.2 Alloy steel (baja paduan)
Sebenarnya perbedaan mendasar dari baja karbon dengan baja paduan terletak pada dominasi atas unsur dalam suatu baja. Jika yang mendominasi sifat fisik dan mekanik adalah prosentase atau kadar karbon maka dapat disebut sebagai baja karbon sedang bila yang mendominasi sifat fisik dan mekanik adalah paduan (selain unsur karbon) maka dapat disebut sebagai baja paduan. Baja paduan dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Baja paduan rendah, yaitu : bila jumlah unsur tambahan selain karbon lebih kecil dari 8%, misalnya : suatu baja terdiri atas 1,35%C; 0,35%Si; 0,5%Mn; 0,03%P; 0,03%S; 0,75%Cr; 4,5%W [Dalam hal ini 6,06%<8%]>
b. Baja paduan tinggi, yaitu : bila jumlah unsur tambahan selain karban lebih dari atau sama dengan 8%, misalnya : baja HSS (High Speed Steel) atau SKH 53 (JIS) atau M3-1 (AISI) mempunyai kandungan unsur : 1,25%C; 4,5%Cr; 6,2%Mo; 6,7%W; 3,3%V.
Tujuan utama dari penambahan unsur paduan sebenarnya untuk memperbaiki sifat-sifatnya seperti : kekuatan tarik, kekuatan impak, ketahanan korosi, ketahanan panas, dll.
Pada baja HSS (contoh diatas) mempunyai sifat keras, ulet, tahan temperatur tinggi, dll.
2.3 Cast iron (besi cor)
Umumnya besi cor akan mengandung unsur Fe dan C [3,5% - 4,3%]. Besi cor, diklasifikasikan menjadi :
a. Besi cor putih (white cast iron) Besi cor putih mempunyai fasa sementid+perlit sehingga mempunyai sifat keras dan getas.
b. Besi cor kelabu (grey cast iron) Unsur penyusun dari besi cor kelabu yakni : Fe + C + Silikon (Si). Adanya penambahan unsur Si (Silikon) bertujuan untuk mengurai Sementid menjadi Fe (ferit atau perlit) dan C (grafit). Bentuk grafitnya berupa serpih sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa fasa besi cor kelabu berupa ferit/perlit + grafit serpih dengan sifat : agak getas yang dikarenakan ujung-ujung grafit berbentuk serpih tajam, akibatnya konsentrasi tegangan tinggi sehingga mudah patah. Contoh penggunaan besi cor kelabu pada konstruksi mesin jahit, blok mesin, lampu hias, mesin bubut, pagar, dll. Keistimawaan besi cor kelabu terhadap baja yakni : mampu meredam getaran.
c. Besi cor bergrafit bulat (ductile cast iron atau noduler cast iron) Unsur penyusun dari besi cor bergrafit bulat yakni : Fe + C + Si + Mg / Ce. Penambahan Mg atau Ce bertujuan untuk “melunakan” grafit menjadi bulat sehingga konsentrasi tegangan sedikit sekali (besi cor bersifat ulet). Contoh penggunaan besi cor bergrafir bulat pada kontruksi penjepit rel kereta api, batang torak kompresor, dll.
d. Besi cor mampu tempa (malleable cast iron) Untuk membuat besi cor mampu tempa dapat dibuat dengan memanaskan besi cor putih hingga mencapai suhu 700 Derajat Celcius selama 30 Jam. Hal ini bertujuan agar sementid terturai menjadi Fe (ferit) dan C (grafit). Grafit yang dihasilkan berbentuk pipih. Contoh penggunaan besi cor mampu tempa pada spare part yang berukuran kecil-kecil.
Non Metal
Dikategorikan menjadi 3 jenis yakni : Polimer, Komposit dan keramik. Keramik merupakan senyawa-senyawa dari karbida dan oksida logam atau oksida metaloid (Si). Perbedaan logam dengan polimer yakni bahwa logam mempunyai butir-butir (kristal-kristal) sedang polimer terdiri dari mer-mer (molekul-molekul) yang berikatan satu dengan lainnya. Butir (kristal) adalah kumpulan atom-atom yang mempunyai orientasi atau arah yang sama.