Saturday, January 31, 2009

Wong Cilik itu siapa, bOZ?

Siapa “WONG Cilik” itu ?
(Oleh Okasatria Novyanto)

Pemilu 2009 sudah didepan mata. Suhu politik tanah Air kian memanas. Aroma dan nuansa saling menjelek-jelekan antar lawan politik juga kian terasa. Hanya yang menjadi sebuah pertanyaan adalah apakah rakyat Indonesia sekarang masih mau dibodohi seperti dulu? Dulu, dengan Jargon “Wong Cilik” memang mampu mampu mengantarkannya ke singgasana pemerintahan. Namun kita juga harus mengakui bahwa pada masa pemerintahannya itu perguruan-perguruan tinggi Negeri ternama seperti UGM, UI dan ITB sudah mulai berubah menjadi BHMN dimana biaya kuliah mulai mahal sehingga akses rakyat miskin yang katanya “Wong Cilik” itu susah untuk melanjutkan kuliah dan kesulitan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Pada masa pemerintahannya pula banyak BUMN yang diprivatisasi dengan alasan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Selain itu pula satu hal yang membuat saya menangis adalah adanya pertumpahan darah di Tanah Rencong yang telah merengut ratusan nyawa saudara-saudara kami baik warga Aceh maupun anggota TNI-POLRI yang gugur di medan tugas, penanganan Illegal Logging dan Illegal Fishing yang belum jelas hasilnya, dll. Namun disisi lain, ternyata banyak juga prestasi yang ditorehkan pada pemerintahannya, misalnya : diawalinya pembangunan jembatan SURAMADU, mulai diberantasnya dan diburunya para Koruptor yang memakan uang Negara (Rakyat), program Sembako Murah, program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan masih banyak prestasi positip lainnya.
Namun apakah pemerintahan yang sekarang ini lantas tidak berhasil? Saya kira tidak. Banyak prestasi positip yang telah diberikan oleh pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu ini, misalnya : Terwujudnya perdamaian di Bumi Serambi Mekah sehingga pertumpahan darah dapat dihentikan, dilanjutkannya program pemberantasan korupsi (jelas arah dan hasilnya), hampir selesainya pembangunan jembatan SURAMADU, dimulainya program percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan untuk kawasan Batam, Bintan, dll. Disamping itu juga adanya perbaikan dan peningkatan kualitas aparatur pemerintahan dalam pelayanannya kepada masyarakat (untuk tidak melakukan PUNGLI) termasuk juga pelayanan POLRI kepada masyarakat, program RASKIN, program modernisasi sistem ALUTISTA TNI, dan masih banyak prestasi positip lainnya. Namun, jangan lupa bahwa pada pemerintahan sekarang itu juga masih ada raport merah yang perlu diperbaiki lagi, misalnya : belum tuntasnya pemberantan Illegal Logging dan Illegal Fishing, Biaya kuliah dan pendidikan yang masih tetap tinggi sehingga akses rakyat miskin untuk mengenyam tingkat pendidikan yang lebih tinggi itu masih tetap terbatas, program konversi minyak tanah ke Gas yang terkesan dipaksakan sehingga dampak positip program ini kurang dirasakan oleh masyarakat, dll.
Jadi intinya setiap masa pemerintahan itu punya “seni” tersendiri dalam mengatur dan membangun masyarakat Indonesia yang heterogen ini. Dan menurut pendapat saya, kurang tepat jika mengatakan pemerintahan sekarang itu seperti “YOYO”. Atas dasar riset apa orang yang katanya Negarawan mengatakan seperti itu? Apakah ini merupakan sebuah “seni” politiknya dalam rangka menarik simpati masyarakat tetapi dengan cara menjelek-jelekan pemerintahan sekarang? Lantas apakah “Wong Cilik” itu benar-benar dia bela serta diperjuangkan ketika masa pemerintahannya dulu? Jawabnya : ada tangan rakyat Indonesia itu sendiri. Rakyat sekarang sudah cerdas dan dewasa dalam menilai.
Intinya, saya hanya memberikan masukan bahwa seyogyanya seorang Negarawan itu mempunyai etika politik yang arif dan bijaksana sehingga jauh dari kesan menjelek-jelekan lawan politiknya. Ingat, bahwa seorang Negarawan sejati itu akan memberikan yang terbaik untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara tanpa memandang asal Partai Politik, Agama, Ras dan Suku bangsa.
Semoga tulisan sederhana ini akan menjadi sebuah penyejuk dalam menghadapi suhu politik yang kian memanas menjelang Pemilu 2009 ini.


Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber

Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber
(Okasatria Novyanto)

Liburan semester tak terasa sudah akan berlalu. Pengalaman manis berkumpul bersama keluarga masih hangat saya rasakan. Tawa dan kebersamaan anggota keluarga seakan-akan meluluhkan kepenatan selama kuliah di Teknik Mesin ITS yang sangat menyita waktu dan tenaga. Kelurahan Kalibeber yang saya lihat kemarin ternyata sudah berkembang menjadi sebuah kota kecamatan yang maju dan modern dimana disana ada sebuah pondok pesantren terkenal yakni Al Asy’ariah dan sebuah universitas swasta UNSIQ. Namun ada sebuah kesedihan yang mendalam dihati saya, yakni kini sawah-sawah dan lahan pertanian produktip lainnya sudah mulai tergusur dan berubah fungsi menjadi bangunan beton. Dulu ketika saya kecil, persawahan merupakan tempat favorit kami untuk bermain perang-perangan lumpur, mencari ikan “gondhok”, mencari ketela untuk dibakar, bermain layangan, dll. Tapi sepertinya kini semua itu hanya akan menjadi sebuah cerita saja karena persawahan kini sudah disulap menjadi bangunan beton yang kedap air. Kondisi ini bila tidak dikendalikan dan diantisipasi sejak dini akan menjadi sebuah “Bom Waktu” yang justru akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Saya memang tidak punya data riset tentang berapa Hektar lahan persawahan dan lahan pertanian produktip lainnya yang telah meyusut dan berubah fungsi menjadi bagunan beton (perumahan) di kelurahan Kalibeber. Namun seyogyanya pemerintah, baik pemerintahan Desa maupun pemerintahan Kabupaten memperhatikan “fenomena” ini. Memang secara teoritis biasanya pertambahan jumlah penduduk itu akan mempersempit lahan pertanian dan persawahan serta akan menambah permasalah sosial lainnya (misalnya : masalah sampah, sanitasi, ketersediaan lapangan pekerjaan, dll). Namun bukan berarti hal ini tidak dapat dikendalikan dan kita membiarkan begitu saja alias pasrah dengan kondisi ini dan berdiam diri. Saya yakin, pemerintah (baik Desa maupun Kabupaten) sebagai sebuah institusi yang mempunyai kekuasaan yuridis mampu untuk mengendallikan kondisi ini sehingga alih fungsi lahan pertanian dan persawahan menjadi bangunan beton dapat dikendalikan baik laju perubahan maupun luas arealnya. Sehingga diharapkan akan tetap ada keseimbangan antara ketersediaan pangan bagi masyarakat dengan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Disisi lain, saya juga mengharapkan adanya peranan, partisipasi aktif dan sumbangsih pemikiran dari UNSIQ sebagai satu-satunya Universitas di Wonosobo agar dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam menyikapi permasalah ini maupuan permasalahan sosial lainnya. Memang permasalahan ini belum secara frontal muncul ke permukaan, tapi saya takut ini akan menjadi “Bom Waktu” dikemudian hari. Sumbangsih pemikiran serta kerjasama yang harmonis antara kalangan akademisi, pemerintah dan masyarakat saya yakin akan memberikan kemaslahatan yang besar bagi masyarakat kalibeber pada khususnya dan masyarakat Wonosobo pada umumnya.

Friday, January 16, 2009

Pembangunan Jembatan Suramadu Tinggal 38 Meter

Surabaya - Selama ini, perkembangan pembangunan Jembatan Suramadu hanya bisa diikuti dari jauh. Pengambilan foto-foto juga dilakukan dari jarak jauh. Karena itu, masyarakat tidak tahu sampai di mana perkembangan pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Madura itu.Minggu siang (28/12), helikopter Jawa Pos memantau langsung dari dekat. Heli tersebut membawa fotografer dan wartawan Jawa Pos serta Management Information System Engineer Satker Pembangunan Suramadu Ashari.
Meski terkendala adanya awan tipis di sekitar lokasi proyek, detail-detail perkembangan pembangunan jembatan terpanjang ke-15 di dunia itu bisa terekam.Heli beberapa kali mengelilingi semua sisi proyek. Mulai sisi utara, selatan, sisi Surabaya, maupun sisi Madura. Dan tentu saja dari atas. Saat itu, ratusan pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembangunan yang diperkirakan tinggal tersisa 10 persen tersebut.
Jembatan Suramadu terdiri atas tiga bagian. Yakni, main bridge (bentang tengah), causeway (jalur pendekat antara jembatan dan daratan), serta approach bridge (jembatan penghubung antara main bridge dan cause way).Bentang tengah sepanjang 818 meter. Causeway terdiri atas dua sisi. Yakni, sisi Surabaya (1.458 meter) dan sisi Madura (1.818 m).
Sedangkan approach bridge masing-masing sisi sepanjang 672 meter. Karena panjangnya jembatan, jumlah pilarnya mencapai 102 buah.Dari hasil pengamatan udara, bagian yang pembangunannya nyaris tuntas adalah causeway. Di dua sisi (baik Surabaya maupun Madura), hampir semua tahap pekerjaan sudah selesai. Aspal sudah terlihat mulus. Markah maupun utilitas jalan (lampu penerangan) juga sudah terpasang. Kalaupun ada yang belum selesai, itu hanya sebagian. Untuk causeway sisi Surabaya misalnya, yang saat ini masih dalam tahap pekerjaan, antara lain, penyelesaian oprit (pertemuan antara jalan akses dengan jembatan).
Selain itu, pada bagian tersebut, pelaksana proyek masih harus merampungkan sebagian lantai yang belum terpasang pada akses untuk sepeda motor, terutama di sisi selatan.Untuk diketahui, jembatan yang pembangunannya menelan biaya Rp 4,5 triliun tersebut nanti menyediakan akses khusus sepeda motor. Letaknya di sisi kanan dan kiri jembatan. Lebar masing-masing 2,75 meter. Total lebar jembatan mencapai 30 meter (2 x 15 meter). Di tiap jalur (arah Surabaya maupun arah Madura) akan ada jalur lambat masing-masing berukuran 2,2 meter. Kemudian, di tiap jalur akan ada dua jalur cepat yang masing-masing selebar 3,5 meter.
Sementara itu, pekerjaan yang tersisa pada causeway sisi Madura, antara lain, berupa penyelesaian overpass dan jalan akses. ''Secara teknis, pembangunan causeway sudah pada angka 99,8 persen,'' kata Ashari yang selama di udara terus memberikan penjelasan tentang detail jembatan. Di bagian main bridge, saat ini sedang dipasang alas jembatan berupa steel box girder (SBG) di atas dua pilar (yakni pilar ke-46 dan ke-47) yang menjadi penumpu bagian tersebut. SBG itu merupakan segmen lantai pada main bridge. Masing-masing sepanjang 12 meter dengan berat 160 ton tiap segmennya. Total keseluruhan 818 meter. SBG merupakan ''lantai'' jembatan yang berbahan dasar baja. Pembuatan dilakukan di Tiongkok. Di antara total 18 segmen, yang sudah terpasang di dua pilar adalah 14 buah. Sisanya tinggal empat segmen atau sekitar 38 meter. Pengerjaan yang tergolong sulit tinggal di SBG ini. Sisanya, meski ada beberapa yang juga belum tuntas, seperti pada causeway, namun hal itu tidak terlalu menyulitkan. Sebab, semua sudah tersedia dan tinggal pasang.Segmen SBG yang masih dalam tahap pengerjaan saat ini adalah segmen 14-17 plus satu segmen closure (sambungan akhir/ penutup). ''Kami targetkan akhir Januari 2009 sudah bisa nyambung,'' ujar Arief Mustofa, chief inspector main bridge Satker Proyek Suramadu, yang dikonfirmasi terpisah.Bila seluruh SBG tersebut terpasang, bisa dikatakan salah satu pekerjaan terberat sudah selesai. Bagaimana tidak. Selain pembuatannya harus dilakukan di Tiongkok, pengirimannya memakan waktu cukup lama. Pengiriman dari Tiongkok dilakukan empat kali selama 30 hari. Itu pun masih harus dirakit lagi di Gresik.Selain itu, pekerjaan lain di bentang tengah berupa pemasangan kabel yang menyangga SBG di kedua pilar. Masing-masing, yang mengarah ke sisi Surabaya sudah terpasang 2 x 14 kabel (dari total 36 kabel), arah Madura juga 2 x 14 kabel (dari total 36 kabel). Secara teknis, kabel itulah yang akan menjadi penyangga utama lantai SBG di bagian main bridge. Pemasangannya juga tidak gampang. Sebab, setelah dipasang, pelaksana proyek harus dua kali menarik kabel. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa kabel tersebut benar-benar kuat menyangga SBG. Sementara itu, bagian yang pembangunannya paling lambat adalah bagian approach bridge. Di sisi Madura, misalnya. Sesuai desain, ada tujuh bentang yang dipasang di atas sembilan pilar. Masing-masing bentang berbahan dasar beton pre-stressed. Tiap bentang beton sepanjang 80 meter.Dari pantauan via helikopter, seluruh bentang memang sudah terpasang di semua pilar. Hanya, pada masing-masing bentang masih belum tersambung satu sama lain. Yang masih harus dilakukan adalah pemasangan lantai concrete box girder yang akan menjadi penyambung.Pembangunan approach bridge di sisi Surabaya lebih lambat. Dari total tujuh bentang sepanjang 672 meter yang akan dipasang di atas sembilan pilar, belum terlihat alas jembatan yang terpasang di atas pilar-pilar tersebut. Ashari lalu menjelaskan secara teknis progress report bagian itu. Pelaksanaan fisik di sisi Madura sebagai berikut. Pengecoran box girder (alas jembatan) sudah mencapai 56,9 persen. Saat ini, proses yang sedang dilakukan adalah pengecoran alas jembatan berupa concrete box girder pada pilar 49 sampai 56. Sedangkan penyelesaian pilar sudah 100 persen.Untuk sisi Surabaya, pekerjaan yang tengah dilakukan berupa pengecoran beberapa pilar yang belum tuntas. Sampai saat ini, pengecoran yang sudah selesai adalah pilar ke 37-44 plus pilar 45 dan 48.
Beragam Kesulitan
Jika dihitung mundur, proyek tersebut sebenarnya dimulai sejak Agustus 2003. Artinya, butuh waktu lima tahun agar proyek tersebut mencapai 90 persen. Tentu bukan waktu yang singkat untuk sebuah proyek jembatan. Pelaksana proyek mengaku, pengerjaan jembatan sepanjang 5,438 km itu memang cukup lama. Hal tersebut tidak terlepas dari beragam kendala yang muncul di sela-sela pembangunan. Salah satu yang paling menghambat adalah masalah perubahan detail desain Suramadu. Antara 2003 sampai 2006, tercatat ada dua kali revisi.Pada awal pelaksanaan proyek, desain berasal dari Departemen Kimpraswil. Namun, setelah itu, pemerintah Tiongkok serta Bank Exim of China yang menjadi investor Suramadu minta dilakukan perubahan desain. Dengan demikian, dilakukanlah design proof check. Hasilnya, ada beberapa perubahan. Terutama untuk fondasi. Rancangan awal, fondasi approach bridge hanya berdiameter 100 cm dengan tinggi 45 meter. Namun, setelah dilakukan DED (detail engineering design) oleh CCC (China Consortium of Chinese Contractor), diubah menjadi berdiameter 180 cm dan 220 cm. Untuk tinggi, di sisi Surabaya ditetapkan 61-93 meter dan sisi Madura 73-94 meter.Demikian pula dengan main bridge. Rancangan fondasi awal berdiameter 100 cm dengan tinggi 46-52 meter. Setelah itu, diubah menjadi diameter 240 cm dengan tinggi 81,5 meter untuk sisi Surabaya dan 83,5 untuk sisi Madura. ''Termasuk, masalah soil investigation (uji kontur tanah) diubah total. Imbasnya, dari hasil penelitian itu, banyak bagian jembatan yang harus diubah,'' kata Ashari.
Problem lain yang membuat pelaksanaan proyek Suramadu agak tersendat adalah pembuatan fondasi di tiap bagian. Hal itu tidak terlepas dari kesulitan pelaksana proyek untuk mengetahui kondisi tanah di bawah laut Surabaya-Madura.Dia mencontohkan saat pemasangan casing (tempat khusus untuk masuknya fondasi) ke dasar laut. Tiba-tiba saja struktur tanah di bawah berubah. Alhasil, casing pun harus dibongkar lagi. Malahan, kalau telanjur dicor, cor itu terpaksa dipereteli.Selain itu, masalah yang cukup pelik adalah sulitnya membuat fondasi. Terutama di sisi approach bridge Surabaya. Di antara sembilan fondasi pilar yang sudah dipasang, ada beberapa pilar yang harus dibongkar lagi oleh pelaksana proyek. Gara-garanya, fondasi itu dianggap tidak lulus uji kelayakan.Dalam pembuatan fondasi, pelaksana proyek menetapkan prosedur uji kelayakan (remidi). Salah satu yang jadi tolok ukur adalah soliditas (kepadatan) fondasi. Metode yang dipakai adalah ultrasonic test (tes melalui gelombang suara lewat alat khusus yang dipasang di fondasi). Dari metode itu, bisa diketahui apakah fondasi sudah sempurna atau belum. ''Dari situ, ternyata ada beberapa fondasi approach di Surabaya yang harus dibongkar lagi. Malahan, ada fondasi yang terpaksa dibongkar beberapa kali,'' katanya.Meski demikian, saat ini semua sudah selesai. Praktis, pekerjaan yang memakan waktu tinggal penyelesaian bagian di main bridge.Guna mencapai target penyelesaian, pekerjaan jembatan terus dikebut. Total, ada 300 pekerja yang dibagi dalam dua sif. ''Hanya, terkadang kami sering terkendala cuaca yang tidak memungkinkan atau embusan angin kencang. Jika sudah begitu, mau tidak mau pekerjaan harus dihentikan sementara,'' jelasnya.Jika ditotal secara keseluruhan, saat ini progress report proyek Suramadu sudah mencapai 90 persen. Pelaksana proyek Suramadu optimistis semua pekerjaan bisa dituntaskan pada akhir Maret 2009. ''Target awal kami tetap. Harapannya, April sudah harus bisa dioperasikan,'' ujar Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V A.G Ismail. (jawapos)