Friday, April 3, 2009

Aplikasi logam Baru Berbasiskan Fe

ALFORM®
Pengembangan produk dari High Strenght Microalloyed dan Thermomechanically rolled steel grade

Okasatria Novyanto
http://okasatria.blogspot.com

ABSTRAK

Continues Improvement Process (CIP) sekarang sedang banyak diterapkan diberbagai kalangan industri. Baik itu pada tingkatan supplier, vendor maupun maker. Satu hal yang tidak dapat lepas dari program CIP tersebut adalah adanya penelitian terhadap produk yang dihasilkan oleh produsen tersebut, baik ditinjau dari segi Engineering design, Quality maupun ekonomi.

Voestalpine Stahl GmbH sebagai salah satu produsen baja kelas dunia telah melakukan penelitian untuk menghasilkan suatu jenis baja konstruksi yang mempunyai kekuatan tinggi dan diimbangi dengan kemampuan untuk dibentuk yang baik (formability). Sebagai jawaban dari permintaan pasar, maka Voestalpine Stahl GmbH memperkenal suatu jenis baja dengan nama dagang ALFORM700M® dan ALFORM900M®.

ALFORM700M® merupakan suatu jenis baja HSLA dengan unsur paduan (microalloyed) berupa Titanium (Ti), Niobium (Nb) dan Vanadium (V) dengan proses berupa pengerolan panas (hot rolled). ALFORM700M® mempunyai yied strength ≥ 700 Mpa dan umumnya baja HSLA mempunyai yied strength 270 Mpa hingga 550 Mpa. Sedang ALFORM900M® merupakan pengembangan produk dari ALFORM700M® tentunya dengan kekuatan yang lebih tinggi bila dibandingkan ALFORM700M®.

Kata Kunci : HSLA, Microalloyed, ALFORM®, Voestalpine Stahl GmbH

I. Pendahuluan.
Seiring dengan peningkatan permintaan pasar (customer) akan perbaikan kualitas (Quality improvement) dan performance suatu produk, maka banyak dari dikalangan industri dan akademisi melakukan suatu riset dan pengembangan atas produk yang telah dihasilkannya.
Selain perbaikan pada dimensi teknologi, ekonomi, dan design product, pemilihan material juga menempati prioritas utama yang harus diperhatikan dalam program Quality improvement tersebut. Pengembangan (improvement) kekuatan material merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam program perbaikan yang terus menerus atas suatu produk (continues improvement) yang sedang berjalan.
Dalam dunia industri otomotif dan konstruksi teknik, akhir-akhir ini terjadi permintaan pasar yang tinggi akan kebutuhan baja yang mempunyai kekuatan yang semakin bertambah dan diimbangi dengan kemampuan untuk dibentuk yang baik (formability). Tujuan utama dari permintaan pasar industri otomotif dan konstruksi teknik ini adalah untuk mengurangi berat dari kendaraan ataupun berat dari elemen konstruksi itu sendiri (misal : pada lengan Crane). Pengurangan berat kendaraan ataupuan berat elemen konstruksi merupakan sebuah konsekuensi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dari kendaraan tetapi tetap memperhatikan faktor standar kenyamanan dan keselamatan bagi penggunanya. Pada mulanya, logam-logam tersebut dibentuk melalui proses pengerjaan dingin (cold working) dan juga pengerjaan panas (hot working) yang diharapkan mampu memenuhi permintaan pasar. Meskipun pada kenyataannya bahwa logam yang telah mengalami pengerjaan dingin itu mempunyai beberapa akibat, antara lain : Tensile Strenght, Yield streghth dan Hardnessnya akan naik sedangkan keuletan (ductility) akan menurun sebanding dengan makin tingginya derajat deformasi dingin yang dialami. Selain itu juga perlu diketahui bahwa sebagian energi yang diberikan untuk mendeformasi logam itu dikeluarkan lagi sebagai panas dan sebagian lagi tetap tersimpan dalam struktur kristal sebagai energi dalam (tegangan dalam) yang dikaitkan dengan cacat kristal yang terjadi sebagai akibat dari deformasi. Jadi, secara sederhana bahwa setiap logam yang mengalami pengerjaan dingin itu pasti akan menyimpan sejumlah tegangan dalam sebagai akibat terjadinya sejumlah dislokasi. Sedang pada pengerjaan panas (hot working) tidak banyak mengalami perubahan sifat dan sifat-sifatnya relatip sama setelah dilakukan hot working.
Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan tersebut diatas, maka diperkenalkan dan kembangkanlah high strength steel dan ultra high strength steel yang diharapkan mampu menjawab permintaan akan pasar dunia industri otomotif dan konstruksi teknik. Salah satu dari pengembangan high strength steel dikenal dengan nama ALFORM700M® yang mempunyai kekutan tarik hingga mencapai 930 Mpa dan salah satu dari pengembangan ultra high strength steel dikenal dengan nama ALFORM900M® yang mempunyai kekutan tarik hingga mencapai 1100 Mpa
ALFORM® sebenarnya merupakan sebuah nama dagang hasil pengembangan dari high strength microalloyed dan thermomechanically rolled steel grade oleh Voestalpine Stahl GmbH. Konsep utama yang dikembangkan oleh Voestalpine Stahl GmbH adalah fokus pada 2 hal, yakni disatu sisi menitikberatkan pada high strength microalloyed dan thermomechanically rolled steel grade dan disisi lain pada transformation hardened (ferritic bainit, dual phase, multiphase, martensitic) grade steel.
II. Batasan Masalah
1. Pembahasan hanya terbatas pada baja ALFORM700M® dan ALFORM900M® yang diproduksi oleh Voestalpine Stahl GmbH.
2. Pembahasan mencakup komposisi kimia, sifat-sifat mekanik, proses perlakuan panas yang terjadi dan aplikasi baja ALFORM®.
III. Dasar Teori
III.1 Susunan Paduan
Suatu paduan (alloy) ialah campuran bahan yang memiliki sifat-sifat logam yang terdiri dari dua atau lebih komponen (unsur) yang sedikitnya satu komponen utamanya adalah logam (Sidney H. Avner, 1964: 147).
Suatu sistem paduan ialah suatu sistem yang terdiri dari semua paduan yang dapat terbentuk dari beberapa unsur dengan semua macam komposisi yang mungkin dapat dibuat.
Paduan dapat diklasifikasikan menurut strukturnya dan sistem paduan diklasifikasikan menurut Diagram keseimbangan (Diagram Fase).
Suatu paduan dapat berupa susunan yang homogen atau campuran. Jika berupa susunan yang homogen, paduan akan terdiri dari satu fase tunggal dan bila campuran maka paduan akan terdiri dari beberapa fase (multiphase).
Fase (phase) ialah bagian dari material, yang homogen komposisi kimianya dan strukturnya, dapat dibedakan secara fisik, dapat dipisahkan secara mekanik dari bagian lain material itu. Suatu fase dapat dibedakan dari fase lain dengan melihat keadaan fisiknya, ada fase gas, cair dan padat. Bagian material dengan komposisi kimia yang berbeda dikatakan sebagai fase yang berbeda. Struktur lattice juga membedakan satu fase dengan fase lainnya. Sebagai contoh pada logam yang memiliki sifat allotropi, setiap bentuk allotropinya merupakan fase tersendiri, walaupun komposisi kimia dan keadaan fisiknya sama. Lattice ialah gambaran 3 dimensi yang menghubungkan antar atom dengan garis imaginer. Sedang allotropi ialah suatu material dapat mempunyai lebih dari satu Kristal tetapi tetapi dalam keadaan padat (solid) yang tergantung pada temperatur.

Lattice dan Unit Cells
Pada paduan dalam keadaan padat ada 3 kemungkinan macam fase, yaitu :
a. Logam murni
Pada kondisi equilibrium, suatu logam murni akan mengalami perubahan fase pada suatu temperatur tertentu. Perubahan fase dari padat ke cair akan terjadi pada temperatur tertentu (dinamakan titik cair) dan perubahan ini berlangsung pada temperatur tetap hingga hingga seluruh perubahannya selesai. Demikian juga halnya dengan perubahan fase yang lain, berlangsung pada temperatur konstant.
b. Senyawa
Ialah gabungan dari beberapa unsur dengan perbandungan tetap. Senyawa memiliki sifat dan struktur yang sama sekali berbeda dengan unsur - unsur pembentuknya. Senyawa juga memiliki titik lebur ataupun titik beku tertentu yang tetap. Ada 3 macam senyawa yang umumnya dijumpai, antara lain : Intermetallic compound (logam-logam dengan sifat kimia berbeda mengikuti kombinasi valensi kimia), Interstitial compound (logam-logam transisi) dan Electron compound (memiliki perbandingan komposisi kimia mendekati perbandingan jumlah electron valensi dengan jumlah atom tertentu).
c. Solid solution (larutan padat)
Suatu larutan terdiri dari 2 bagian yaitu solute (terlarut) dan solvent (pelarut). Solute merupakan bagian yang lebih sedikit, sedang solvent adalah bagian yang lebih banyak.
III.2 Mekanisme Penguatan Logam
Secara umum mekanisme penguatan logam itu antara lain :
1. Mereduksi ukuran butir atau penghalusan butir (Grain refinement)
Pada prinsipnya, batas butir berfungsi sebagai pembatas pergerakan dislokasi. Jika ukuran butir mengecil maka jumlah penghalang akan naik sehingga kekuatan juga akan naik.
2. Pemaduan dengan larutan padat.
3. Pengerasan regangan (misalnya : Cold working)
4. Presipitasi Hardening
5. Perlakuan Panas (Heat Treatment)
Sifat mekanik tidak hanya tergantung pada komposisi kimia suatu paduan, tetapi juga tergantung pada struktur mikronya. Suatu paduan dengan komposisi kimia yang sama dapat memiliki struktur mikro yang berbeda dan sifat mekaniknya juga akan berbeda. Struktur mikro tergantung pada proses pengerjaan yang dialami, terutama proses laku panas yang diterima selama proses pengerjaan. Proses laku panas adalah kombinasi dari operasi pemanasan dan pendinginan dengan kecepatan tertentu yang dilakukan terhadap logam atau paduan dalam keadaan padat, sebagai suatu upaya untuk memperoleh sifat-sifat tertentu. Proses laku panas pada dasarnya terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dengan pemanasan sampai ke temperatur tertentu, lalu diikuti dengan penahanan selama beberapa saat, baru kemudian dilakukan pendinginan dengan kecepatan tertentu.
Heat Treatment, secara garis besar digolongkan dalam 2 jenis :
a. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan)
Tujuan umum dari perlakuan panas jenis Near Equilibrium ini diantaranya adalah untuk : melunakkan struktur kristal, menghaluskan butir, menghilangkan tegangan dalam dan memperbaiki machineability. Jenis dari perlakukan panas Near Equibrium, misalnya : Full Annealing (annealing), Stress relief Annealing, Process annealing, Spheroidizing, Normalizing dan Homogenizing.
b. Non Equilirium (Tidak setimbang)
Tujuan umum dari perlakuan panas jenis Non Equilibrium ini adalah untuk mendapatkan kekerasan dan kekuatan yang lebih tinggi. Jenis dari perlakukan panas Non Equibrium, misalnya : Hardening, Martempering, Austempering, Surface Hardening (Carburizing, Nitriding, Cyaniding, Flame hardening, Induction hardening).
III.3 Diagram Near Equilibrium Ferrite-Cementid
Equilibrium ialah tidak ada perubahan fasa dalam fungsi waktu (no change of phase with time). Diagram Ferrite-Cementid itu tidak sebenarnya diagram Equilibrium, karena pada kenyataannya sementid itu akan terurai menjadi besi (Fe) dan Carbon (C). Pada temperatur 700°C saja untuk merubah sementid itu butuh waktu beberapa tahun. Oleh karena itu diagram Ferrite-Cementid itu dianggap metastabil (sudah mendekati Equibrium). Meskipun demikian, “perubahannya” itu bisa dianggap sebagai equilibrium karena butuh waktu yang lama (pendinginan sangat lambat). Beberapa hal yang perlu diketahui dari diagram Near Equilibrium Ferrite-Cementid diatas, misalnya :
a. Kandungan Carbon
 0,008%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperatur kamar
 0,025%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperatur 723°C
 0,83%C = Titik Eutectoid
 2%C = Batas kelarutan Carbon pada besi Gamma pada temperatur 1130°C
 4,3%C = Titik Eutectic
 0,1%C = Batas kelarutan Carbon pada besi Delta pada temperatur 1493°C
Diagram Near Equilibrium Ferrite-Cementid
b. Garis-garis
 Garis Liquidus ialah garis yang menunjukan awal dari proses pendinginan (pembekuan).
 Garis Solidus ialah garis yang menunjukan akhir dari proses pembekuan (pendinginan).
 Garis Solvus ialah garis yang menunjukan batas antara fasa padat denga fasa padat atau solid solution dengan solid solution.
 Garis Acm = garis kelarutan Carbon pada besi Gamma (Austenite)
 Garis A3 = garis temperature dimana terjadi perubahan Ferrit menjadi Autenite (Gamma) pada pemanasan.
 Garis A1 = garis temperature dimana terjadi perubahan Austenite (Gamma) menjadi Ferrit pada pendinginan.
 Garis A0 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Cementid.
 Garis A2 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Ferrite.
c. Struktur mikro
Ferrite ialah suatu komposisi logam yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 0,025%C pada temperatur 723°C, struktur kristalnya BCC (Body Center Cubic) dan pada temperature kamar mempunyai batas kelarutan Carbon 0,008%C.
Austenite ialah suatu larutan padat yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 2%C pada temperatur 1130°C, struktur kristalnya FCC (Face Center Cubic).
Cementid ialah suatu senyawa yang terdiri dari unsur Fe dan C dengan perbandingan tertentu (mempunyai rumus empiris) dan struktur kristalnya Orthohombic.
Lediburite ialah campuran Eutectic antara besi Gamma dengan Cementid yang dibentuk pada temperatur 1130°C dengan kandungan Carbon 4,3%C.
Pearlite ialah campuran Eutectoid antara Ferrite dengan Cementid yang dibentuk pada temperatur 723°C dengan kandungan Carbon 0,83%C.
III.4 Transformasi Non Equilibrium
Diagram transformasi baja pada kondisi ekuilibrium memberikan sedikit sekali pengetahuan tentang pendinginan baja pada kondisi non ekuilibrium. Banyak ahli metallurgi berpendapat bahwa waktu dan temperatur transformasi austenite mempunyai pengaruh yang besar terhadap produk hasil transformasi dan properties baja. Karena austenit tidak stabil di bawah temperatur kritis bawah, sangat penting untuk diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk austenite selesai bertransformasi, dan bertransformasi menjadi apa pada akhirnya austenit tersebut pada temperatur konstan di bawah temperatur kritis bawah. Proses transformasi tersebut dinamakan Isothermal Transformation (IT), jadi secara sederhana Isothermal Transformation (IT) ialah perubahan pada temperatur constant dari austenite yang tidak stabil.
Diagram transformasi dapat dipakai untuk meramalkan struktur yang akan terjadi bila baja didinginkan dari temperatur austenisasi dengan laju pendinginan tertentu. Untuk meramal struktur yang dapat terjadi ini maka pada diagram transformasi digambarkan kurva pendinginan yang akan dialami baja itu. Sebagai contoh pada gambar dibawah ini digambarkan beberapa kurva pendinginan pada diagram transformasi dari baja karbon eutectoid (0,8% C).

Isothermal Transformation (IT)
Sebenarnya memplot kurva pendinginan pada diagram Isothermal Transformation (IT) tidak tepat karena transformasi yang digambarkan dengan diagram Isothermal Transformation (IT) adalah transformasi pada temperatur konstan, sedangkan pendinginan yang dialami suatu benda pada proses laku panas biasanya pendinginan yang kontinyu. Letak kurva transformasi akan bergeser bila transformasi berlangsung pada temperatur yang menurun. Karena itu perlu dibuat suatu diagram transformasi pada pendingian kontinyu.
Diagram transformasi semacam ini dinamakan diagram transformasi pendinginan kontinyu atau diagram CCT (Continuous Cooling Transformation). Bentuknya agak berbeda dibandingkan dengan diagram IT. Kurva transformasi tergeser sedikit ke kanan bawah dan pada baja karbon tidak terdapat daerah transformasi austenit-bainit. Ini disebabkan karana kurva awal transformasi austenite-bainite terhalang oleh kurva transformasi austenite-perlite.
Continuous Cooling Transformation (CCT)
Pada proses laku panas biasanya pendinginan dilakukan dengan pendinginan kontinyu, sehingga biasanya diagram CCT lebih banyak digunakan. Sedangkan diagram IT digunakan untuk proses laku panas tertentu yang dilakukan dengan pendinginan isothermal.
Secara umum, pergeseran diagram Isothermal Transformation dipengaruhi oleh :
1. Kadar Carbon
semakin besar kadar Carbon, maka nose akan semakin bergeser ke kanan.
2. Unsur paduan
unsur-unsur paduan seperti : Mo, V, dll. Menggeser nose ke kanan sedang Cobalt akan menggeser nose ke kiri.
3. Pengasaran ukuran butir
Pengasaran ukuran butir austenite mempunyai efek yang sama dengan penambahan unsur paduan, ukuran butir yang kasar akan mengurangi ketangguhan dari baja. Karena itu jika ingin mengurangi critical cooling rate lebih baik menambahkan komposisi kimia daripada mengasarkan ukuran butir.
III.5 Klasifikasi Baja
Ditinjau dari komposisi kimianya, baja diklasifikasikan dalam :
1. Plain Carbon Steel, yaitu : suatu jenis baja dengan unsur utamanya berupa Fe dan C, tetapi masih terdapat unsur-unsur lain dalam jumlah yang relatip kecil yang tidak mempengaruhi sifatnya, misalnya : Mn (<1%);>a. Low Carbon Steel (kadar Carbonnya kurang dari 0,3%)
b. Medium Carbon Steel (kadar Carbonnya antara 0,3% hingga 0,6%)
c. High Carbon Steel (kadar Carbonnya antara 0,6% hingga 1%)
d. Ultra High Carbon Steel (kadar Carbonnya antara 1% hingga 2%)
2. Alloy Steel, yaitu : suatu jenis baja yang mengandung unsur-unsur lain selain Carbon yang sengaja ditambahkan untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu, misalnya : Ni, Si, Al, P, Cu. Mn, Cr, dll. %). Ditinjau dari kadar paduannya, Alloy Steel diklasifikasikan dalam 2 jenis, yaitu :
a. Low Allow Steel (total paduannya kurang dari 5%)
b. High Allow Steel (total paduannya lebih dari 5%)
Jenis-jenis baja high strength steel (Horvarth 2004 : 1,4)
IV. Pembahasan
Thermomechanically rolled steel grade merupakan baja karbon rendah yang ditambahkan dengan unsur-unsur (microalloyed) berupa Titanium, Niobium dan Vanadium. Thermomechanically rolled steel grade bisa juga disebut dengan HSLA. HSLA steels atau Microalloyed steels merupakan suatu jenis logam yang dirancang sedemikian rupa dengan tujuan untuk mendapatkan sifat-sifat mekanik (mechanical properties) yang lebih baik dan atau untuk mendapatkan ketahanan korosi yang lebih bagus dibandingkan dengan baja karbon. HSLA steel ini memang dirancang untuk lebih memenuhi spesifikasi mechanical properties yang dikehendaki dibandingkan dengan chemical composition. HSLA steel mempunyai kadar karbon yang rendah (0,05%C hingga 0,25%C) sehingga mempunyai formability dan weldability yang baik, HSLA ini juga mempunyai kandungan Mn hingga 2%. Unsur-unsur lain seperti chromium, nickel, molybdenum, copper, nitrogen, vanadium, niobium, titanium dan zirconium terdapat dalam jumlah yang relatip sedikit. Tujuan utama dikembangkannya ALFORM® oleh Voestalpine Stahl GmbH adalah untuk mendapatkan suatu logam yang mempunyai kekuatan tarik tinggi dengan unsur paduan yang rendah. Jadi secara sederhana ALFORM® (khususnya ALFORM700M®) itu merupakan suatu varian atau pengembangan produk dari HSLA (High Strengh Low Allow). Untuk mendapatkan tingkat kekuatan yang lebih baik pada HSLA steel itu dapat diperoleh dengan :
a. Mekanisme penguatan pemaduan larutan padat (solid solution hardening) berupa penambahan unsur Manganese (Mn) ataupun Silicon (Si).
Baja berkekuatan tinggi dapat diperoleh dengan mengubah fasa austenite yang mengandung karbon dalam bentuk larutan pada temperatur tinggi, menjadi fasa martensite dengan pencelupan dingin pada temperatur rendah. Martensite adalah larutan padat karbon yang dipaksakan, mempunyai bentuk kisi tetragonal. Dengan pencelupan dingin, baja yang berkadar 0,4%C atau lebih memperoleh kekuatan mulur hingga 1700 Mpa atau lebih, tetapi bersifat getas dan baru dapat dipakai setelah diadakan penemperan untuk memperoleh keliatan walaupun kekuatannya agak menurun. Yang memberikan kekuatan pada martensite terutama unsur karbon. Penambahan Mn, Si, Ni, Cr, Mo dan unsur lainnya akan memperbaiki kekerasannya serta keuletannya (Prof. Ir. Tata Surdia, M.S. Met. E, 1999 : 48).
b. Penambahan presipitat yang berupa Titanium-Niobium carbonitrides dan Vanadium carbides yang menyebabkan presipitasi hardening.
Presipitasi hardening dipengaruhi oleh tipe dari carbonitride, ukuran butirnya (grain size) dan jumlah dari presipitat (http://www.key-to-steel.com). Pada presipitasi hardening, mula-mula material mengalami pemanasan sampai dengan daerah solid solution (solid solution treatmen) kemudian ditahan beberapa lama (holding time) lalu diquenching dimana pada temperatur kamar solid solution akan menjadi supersaturated. Tahapan selanjutnya adalah proses aging dimana mulai timbul presipitat yang terdispersi merata pada matriks. Kumpulan presipitat mulai terbentuk atau bernukleasi pada GP (guinier-preston) zone stage dan akan tumbuh menjadi sempurna sehingga kekerasan dan kekuatannya naik. Apabila over aging maka menurunkan kekerasan (hardness) dan kekuatan (strength).
c. Penghalusan butir oleh perlakuan thermomechanical.
Menahan austenite dalam keadaan kurang stabil pada temperatur antara 400°C hingga 550°C, yang dideformasikan saat sebelum terjadi transformasi dan kemudian didinginkan tiba-tiba maka akan menghasilkan martensite yang sangat halus dan mempunyai sejumlah kisi sehingga memiliki kekuatan tinggi. Metode ini dinamakan dengan “Ausforming” dan pada umumnya cara yang serupa dinamakan perlakuan thermo mekanik (thermomechanical). Ausforming tidak dapat dilakukan terhadap baja karbon biasa, sehingga baja harus dipadu dengan Cr, Ni, Si, dll. Dengan penemperan yang cocok setelah proses ausforming maka baja akan mencapai kekuatan maksimum 3100 Mpa dan masih mempunyai keuletan cukup (Prof. Ir. Tata Surdia, M.S. Met. E., 1999 : 48). Secara sederhana dapat dikatakakan bahwa penghalusan butir itu salah satunya dapat disebabkan oleh perlakuan thermo mekanik (metode produksi).
Untuk solid solution hardening, pada kenyataannya pengaruh unsur-unsur tersebut (Mn dan Si) terhadap kekerasan dan kekuatan akhir dari baja relatif kecil. Penghalusan butir (grain refinement) merupakan mekanisme penguatan yang paling dikehendaki karena penghalusan batas butir ini tidak hanya memperbaiki kekuatan saja tetapi juga ketangguhan (toughness).
IV.1 Inovasi
Secara konsep dasar, ALFORM® itu memadukan 2 buah mekanisme penguatan material yang banyak digunakan untuk meningkatkan kekuatan pada HSLA steel, yakni : presipitasi hardening dan grain refinement (penghalusan butir). Sedang untuk mendapatkan tingkat kekuatan hingga termasuk dalam kategori ultra hight strength steel maka perlu dilakukan transformasi hardening. Dalam aplikasinya presipitasi hardening dan grain refinement itu tidak akan lepas dengan peranan dari unsur-unsur paduan, seperti : C, Mn, Si, Nb, Ti, V, Mo, B dan N yang ditambahkan pada proses produksi sehingga tentu saja akan mempengarui sifat mekanik dari baja ALFORM® (ALFORM®700M dan ALFORM®900M).
IV.2 Karakteristik
Microalloyed and Thermomechanically rolled steel grade merupakan suatu jenis baja yang mengacu pada standar EN10149-2 dengan kekuatan luluh (yield strength) minimum 315 Mpa hingga 700 Mpa. Voestalpine Stahl GmbH menjualnya dengan nama dagang ALFORM® yang mempunyai sifat-sifat mekanik yang khusus dan fokus pada kekuatan baja. Sebagai tambahan, Voestalpine Stahl GmbH juga memperkenalkan ALFORM900M® yang merupakan suatu jenis baja ultra high strength steel dengan proses penambahan perlakukan panas (thermal treatment) tertentu setelah proses hot rolling. Namun ALFORM900M® itu tidak dapat disamakan dengan baja standar EN10149-2. ALFORM900M® ini dapat dibandingkan dengan baja quenching dan baja tempering S890Q yang mengacu pada standar EN10137-2, tetapi ALFORM900M® ini mempunyai kualitas yang lebih bagus karena proses produksinya yang berbeda. Pada dasarnya ALFORM900M® merupakan tindak lanjut dari pengembangan ALFORM700M®. ALFORM700M® merupakan suatu jenis baja HSLA dengan unsur paduan (microalloyed) berupa Titanium (Ti), Niobium (Nb) dan Vanadium (V) dengan proses berupa pengerolan panas (hot rolled). ALFORM700M® ini mempunyai kekuatan luluh (yield strength) minimum sebesar 700 Mpa. Kemudian untuk merubahnya kedalam tingkat ultra hight strength steel (ALFORM900M® ) maka setelah proses hot rolling itu dilanjutkan dengan proses perlakukan panas (thermal treatment). Jadi ALFORM900M® merupakan pengembangan produk dari ALFORM700M® tentunya dengan kekuatan yang lebih tinggi bila dibandingkan ALFORM700M®.
IV.3 Proses produksi (Manufacturing process) dan Perlakuan panas (Heat treatment)
Perlu diketahui bahwa untuk membuat baja ALFORM®, unsur-unsur paduan (microalloyed) dalam jumlah yang relatip kecil ditambahkan pada baja (0,05%C) hingga 0,25%C) ketika proses pengecoran (casting process) sehingga dihasilkan slab (lempengan baja) yang didalamnya terdapat kandungan unsur-unsur tersebut. Khusus penambahan Ti (Titanium) itu dilakukan ketika proses reheated (pemanasan ulang), selanjutnya baru dilakukan proses hot deformation atau heat treatment pada slab (lempengan baja) (http://www.key-to-steel.com). Secara umum proses produksi pada baja ALFORM® itu harus dilakukan dengan proses hot rolling.
Proses pengolahan Baja
Proses hot rolling (pengerolan panas) diawali dengan perendaman (soaking) lempengan-lempengan baja (slab) didalam dapur pemanasan ulang (reheating furnace) pada temperatur 900°C hingga 1220°C. Penentuan temperatur pemanasan ulang ini diperlukan untuk mengontrol kebutuhan keleburan (dissolution) dari presipitat-presipitat Nb dan V yang terbentuk ketika pendinginan setelah proses pengecoran serta presipitat Ti (Titanium) yang ditambahkan ketika proses pemanasan ulang (reheated). Karbida berfungsi untuk menaikkan kekerasan, kekuatan dan ketahanan aus (wear resistance). Karbida komplek yang terlarut dalam austenit (carbide forming elements) merupakan elemen deep hardening yang kuat. Karbida kompleks yang tidak terlarut dalam austenit akan menurunkan pertumbuhan butir dan mengurangi hardenability. Kekerasan dan wear resistance suatu paduan yang kaya karbida ditentukan oleh jumlah, ukuran dan distribusi partikel karbidanya. Pengaruh unsur paduan tersebut dikontrol oleh komposisi komposisi kimia, metode manufakturnya dan perlakuan panas.
Skema hot rolling parameters
Setelah dilakukan reheating, lempengan baja (slab) didinginkan hingga mencapai temperatur 850°C dengan kecepatan pendinginan rata-rata 283°C/s [10°K/s] kemudian dideformasi I (rough hot rolling deformation) pada temperatur 850°C. Sebelum dilakukan pendinginan lagi, maka dilakukan proses dideformasi II (finish hot rolling deformation). Antara proses deformasi I dan deformasi II terdapat deformation parameters yang bertujuan untuk mengatur (adjust) struktur mikro agar sesuai dengan yang dikehendaki. Proses pendinginan dilanjutkan kembali dengan kecepatan pendinginan rata-rata 20°C/s hingga mencapai temperatur pertengahan (intermediate temperature), yakni sekitar 550°C kemudian ditahan beberapa lama dan akhirnya didinginkan pada suhu ruangan (coiling themperature). Pada salah satu bagian dari proses hot rolling ada suatu section yang bernama hot strip mill. Hot strip mill section ini berfungsi untuk mengatur (adjust) struktur mikro pada saat pendinginan, oleh karena itu perilaku material harus diketahui. Untuk mengetahui perilaku material, salah satunya dapat diketahui dengan deformasi dilatometry. Deformasi dilatometry merupakan salah satu cara untuk mengetahui perbedaan fasa yang terjadi terhadap variasi kecepatan pendinginan (cooling rate), temperatur pertengahan (intermediate temperature) atau temperatur coil (coiling temperature). Dari hasil deformasi dilatometry diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Pada baja ALFORM700M®, transformasi terjadi secepat mungkin pada awal pendinginan. Umumnya transformasi austenite akan terjadi pada temperatur antara 850°C hingga 700°C. Sedang pada ALFORM900M® tampak adanya perilaku yang berbeda. Pada ALFORM900M® transformasi itu tidak terjadi pada temperature antara 850°C hingga 700°C sebagaimana pada baja ALFORM700M®, tetapi lebih rendah dari temperatur tersebut.
Dan berdasarkan hasil deformasi dilatometry, transformasi untuk baja ALFORM900M® itu tidak tepat pada suhu 550°C melainkan setelah ditahan beberapa saat baru terjadi transformasi. Turunnya temperature austenite pada baja ALFORM900M® terjadi karena pengaruh dari unsur paduan, yakni adanya unsur Ni dan Mn yang relatip lebih besar jumlahnya dibandingkan pada baja ALFORM700M®. Unsur Ni dan Mn ini merupakan austenite stabilizer yang membuat austenite menjadi lebih stabil pada temperatur yang lebih rendah. Pengaruh unsur-unsur paduan yang ditambahkan saat proses produksi adalah sebagai berikut :
 Carbon, memperbaiki hardenability, kekuatan, kekerasan dan ketahanan aus tetapi mengurangi keuletan, weldability dan ketangguhan.
 Manganese, memperbaiki hardenability, kekuatan, ketahanan terhadap abrasi dan machinability. Tetapi mengurangi hot shortness, menurunkan weldability. Mn umumnya digunakan antara 0,5% hingga 2% tetapi untuk baja jenis tertentu dapat digunakan dalam range 10% hingga 15%.
 Silicon memperbaiki hardenability, kekuatan, kekerasan, ketahanan aus dan konduktivitas listrik. Tetapi mengurangi magnetic hysterisis loss, machinability dan cold formability. Penambahan silicon hingga mencapai 1% dalam suatu baja akan berdampak pada sifat mekaniknya, misalnya pada tensile strength.
 Niobium (Columbium) membentuka fine grain size (ukuran butir yang halus), memperbaiki kekuatan dan impact toughness. Tetapi merendahkan temperatur transisi sehingga kemungkinan dapat mengurangi hardenability.  Titanium, memperbaiki hardenability.
 Boron, memperbaiki hardenability tanpa menghilangkan atau bahkan justru memperbaiki machinability dan formability.
 Nickel memperbaiki kekuatan, ketangguhan dan ketahanan korosi. Tetapi yang paling utama pengaruh dari Ni adalah memperbaiki hardenability.
IV.4 Continuous Cooling Transformation (CCT)
Ketika melakukan proses pendinginan, penggunaan Continuous Cooling Transformation diagram dan Isothermal Transformation diagram juga perlu diperhatikan. Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol transformasi dari austenite agar berubah menjadi struktur mikro yang mempunyai kekerasan yang baik, seperti : Acicular ferrit, bainite ataupun martensite. Untuk baja ALFORM900M® strukturnya berupa Bainite (pearlite halus) dan sedikit “pulau kecil”martensite. Adanya bainite ini maka kekuatannya bertambah, lebih besar bila dibandingkan dengan adanya pearlite tetapi keuletan dan elongationnya berkurang, sedang adanya martensite akan meningkatkan kekerasan tetapi juga dapat menyebabkan kegetasan. Untuk baja ALFORM700M® struktur utamanya berupa ferrite dan perlite (α+P) sehingga secara umum mempunyai sifat mekanik yang kuat, yakni kekuatan dan keuletannya bertambah.
IV.5 Sifat-sifat Mekanik baja ALFORM700M® dan ALFORM900M®
Properties dari Microalloyed steel grade ALFORM700M® dan ALFORM900M®
Steel Grade YS[
Mpa] UTS[Mpa] A5Av(-20°C) % J
ALFORM700M® ≥ 700 750 - 930 ≥ 15 ≥ 40
ALFORM900M® ≥ 900 940 - 1100 ≥ 11 ≥ 40

IV.6 Aplikasi baja ALFORM700M® dan ALFORM900M®
Selama lebih dari 10 tahun, kedua jenis baja tersebut telah sukses dan banyak digunakan dalam berbagai dunia industri, misalnya :
1. Bidang konstruksi dari cantivelar beam untuk mobil derek (vehicle cranes).
2. Pompa
3. Bidang industri otomotif dan peralatan pertanian
4. Khusus untuk ALFORM700M® juga dapat digunakan pada industri roll forming pembuatan pipa.
Gambar aplikasi ALFORM® pada Industri konstruksi
V. Kesimpulan
1. Konsep dasar dari baja ALFORM® yang diproduksi oleh Voestalpine Stahl GmbH yakni dengan memadukan 2 buah mekanisme penguatan material berupa presipitasi hardening dan grain refinement (penghalusan butir). Sedang untuk mendapatkan tingkat kekuatan hingga termasuk dalam kategori ultra hight strength steel maka perlu dilakukan transformasi hardening.
2. ALFORM700M® mempunyai yied strength ≥ 700 Mpa sedang umumnya baja HSLA mempunyai yied strength 270 Mpa hingga 550 Mpa.
3. ALFORM900M® merupakan pengembangan produk dari ALFORM700M® tentunya dengan kekuatan yang lebih tinggi bila dibandingkan ALFORM700M®
VI. Daftar Pustaka
Suherman, Wahid.1988. Ilmu Logam. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surdia, Tata. 1999. Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta : PT. Pradnya Paramita
Avner, Sidney H. 1982. Introduction Of Physical Metallurgy Second Edition. Tokyo : McGraw Hill International Book Company.
Spindler, Helmut, dkk. High Strenght and Ultra Hight Strenght Hot Rolled Steel Grades Product for Advanced Applications. Austria : Voestalpine Stahl GmbH
Anonim. 2007. http://www.key-to-steel.com

Read More......

Wednesday, April 1, 2009

Selamat Jalan Sang Veteran

Selamat Jalan Sang Veteran Perang Kemerdekaan RI
(Sebuah kalimat perpisahan terakhir untuk sang Kakek tercinta Saim Bin Sawentaram)



Sore itu, langit Surabaya tampak cerah dan terang sekali. Tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda ada panggilan masuk. “Ka, oka. Ini Oka kan?”. Aku sepertinya mengenali suara itu dan aku jawab “Ada apa, mas!”. “Simbah (kakek) sudah tidak ada, Ka!” begitu katanya. Langsung aku merasa “gelap”, bingung, kaget, dll. campur jadi satu. Dan langsung malam itu juga aku pulang ke Kutoarjo, Purworejo. Aku tidak peduli lagi dengan adanya Quis Mekanika Fluida Lanjut dari Profesor Triyogi Yuwono untuk hari selasa esok, pokoknya aku harus pulang segera! Begitu pikirku.
Keesokan harinya, aku sudah sampai di Kutoarjo. Didepanku ada sesosok jasad yang sudah kaku dan sebentar lagi beliau akan dikebumikan. Kami sekeluarga sudah ikhlas dan ridho bila beliau dipanggil oleh-Mu ya Allah. Meski Rasa sedih, haru, ikhlas, dll. tumpah jadi satu, inilah sebuah takdir yang harus aku terima dengan lapang dada dan “legowo”.
Tidak terasa 24 tahun aku sudah mengenalmu, kakek. Selama itu pula aku belajar banyak hal akan makna kehidupan ini. Mulai dari ilmu agama Islam, jiwa dagang, cara bercocok tanam, sosial kemasyarakatan, dll. Aku masih ingat betul dan itu pasti akan selalu kuingat saat-saat dimana kita masih hidup dibawah garis kemiskinan. Kala itu aku masih kecil, aku ingat betul ketika kakekku bekerja dari pagi sampai larut malam jualan es lilin, rokok dan makanan kecil di depan gedung bioskop sawunggalih Kutoarjo (sekarang sudah tidak ada lagi). Aku tahu bahwa sebenarnya engkau sangat lelah dan ingin istirahat meski barang sesaat, kek. Namun, karena kerasnya hidup dan demi sesuap nasi serta agar dapur tetap mengepul, seakan-akan engkau tidak mengenal kalimat lelah lagi. Memang sesekali aku menggantikan jaga warungmu, kek. Tapi namanya juga anak kecil, aku justru sering mengambil makanan ataupun Es Lilin yang kau jual. Tapi anehnya, kau tidak pernah memarahi aku barang sekalipun karena engkau memaklumiku sebagai anak kecil saat itu.
Tahun 1986-2005, kau tidak pernah berharap terlalu banyak untuk diakui Negara sebagai seorang Pejuang RI (Veteran) sehingga setiap bulannya akan dapat tunjangan. Namun, ternyata Allah Maha Adil, karena seiring dengan jalannya waktu kami mengalami perbaikan ekonomi setahap demi setahap sampai kecukupan rizki seperti sekarang ini. Kala itu, kau selalu mengajarkan dan menanamkan kesabaran, tawakal dan pantang menyerah kepadaku dengan cara “mendongengkan cerita” setiapkali aku duduk dipangkuanmu, kek.
Kini, umurmu sudah 90 tahun. Dulu ketika aku masih baru saja memulai "penjelajahan dunia", aku selalu berdoa kepada Allah agar aku dapat kembali ke Pulau Jawa ataupun ke Indonesia sehingga ketika diakhir hayatmu aku paling tidak bisa berbakti kepadamu, baik dalam bentuk materi maupun kesempatan untuk merawatmu secara langsung karena sudah lanjut usia. Kini Doa itu sudah terjawab, meski hanya 2 tahun aku dapat merawatmu secara langsung ketika engkau sudah mulai udzur dan Pikun, aku sudah ikhlas dan legowo melepas kepergianmu, kakek. Semoga Allah Subhanahu Wa ta’la mengampuni segala dosa dan kesalahan kakekku, Amin.
Dalam kesempatan ini, saya mewakili keluarga besar Saim Bin Sawentaram mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada masyarakat Gang Koplak Semawung Daleman, Para tukang penggali Makam, Aparat pemerintahan kelurahan Semawung Daleman-Kutoarjo, Legiun Veteran RI, Koramil Kutoarjo, Polsek Mojotengah-Wonosobo, Dinas Pertanian Wonosobo, Masyarakat Mekarsari-Kalibeber, dll. yang telah bahu membahu secara gotong royong mengurus pemakaman kakek kami tercinta. Semoga Allah membalas kebaikan hati anda, Amin.

Read More......

Saturday, January 31, 2009

Wong Cilik itu siapa, bOZ?

Siapa “WONG Cilik” itu ?
(Oleh Okasatria Novyanto)

Pemilu 2009 sudah didepan mata. Suhu politik tanah Air kian memanas. Aroma dan nuansa saling menjelek-jelekan antar lawan politik juga kian terasa. Hanya yang menjadi sebuah pertanyaan adalah apakah rakyat Indonesia sekarang masih mau dibodohi seperti dulu? Dulu, dengan Jargon “Wong Cilik” memang mampu mampu mengantarkannya ke singgasana pemerintahan. Namun kita juga harus mengakui bahwa pada masa pemerintahannya itu perguruan-perguruan tinggi Negeri ternama seperti UGM, UI dan ITB sudah mulai berubah menjadi BHMN dimana biaya kuliah mulai mahal sehingga akses rakyat miskin yang katanya “Wong Cilik” itu susah untuk melanjutkan kuliah dan kesulitan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Pada masa pemerintahannya pula banyak BUMN yang diprivatisasi dengan alasan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Selain itu pula satu hal yang membuat saya menangis adalah adanya pertumpahan darah di Tanah Rencong yang telah merengut ratusan nyawa saudara-saudara kami baik warga Aceh maupun anggota TNI-POLRI yang gugur di medan tugas, penanganan Illegal Logging dan Illegal Fishing yang belum jelas hasilnya, dll. Namun disisi lain, ternyata banyak juga prestasi yang ditorehkan pada pemerintahannya, misalnya : diawalinya pembangunan jembatan SURAMADU, mulai diberantasnya dan diburunya para Koruptor yang memakan uang Negara (Rakyat), program Sembako Murah, program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan masih banyak prestasi positip lainnya.
Namun apakah pemerintahan yang sekarang ini lantas tidak berhasil? Saya kira tidak. Banyak prestasi positip yang telah diberikan oleh pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu ini, misalnya : Terwujudnya perdamaian di Bumi Serambi Mekah sehingga pertumpahan darah dapat dihentikan, dilanjutkannya program pemberantasan korupsi (jelas arah dan hasilnya), hampir selesainya pembangunan jembatan SURAMADU, dimulainya program percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan untuk kawasan Batam, Bintan, dll. Disamping itu juga adanya perbaikan dan peningkatan kualitas aparatur pemerintahan dalam pelayanannya kepada masyarakat (untuk tidak melakukan PUNGLI) termasuk juga pelayanan POLRI kepada masyarakat, program RASKIN, program modernisasi sistem ALUTISTA TNI, dan masih banyak prestasi positip lainnya. Namun, jangan lupa bahwa pada pemerintahan sekarang itu juga masih ada raport merah yang perlu diperbaiki lagi, misalnya : belum tuntasnya pemberantan Illegal Logging dan Illegal Fishing, Biaya kuliah dan pendidikan yang masih tetap tinggi sehingga akses rakyat miskin untuk mengenyam tingkat pendidikan yang lebih tinggi itu masih tetap terbatas, program konversi minyak tanah ke Gas yang terkesan dipaksakan sehingga dampak positip program ini kurang dirasakan oleh masyarakat, dll.
Jadi intinya setiap masa pemerintahan itu punya “seni” tersendiri dalam mengatur dan membangun masyarakat Indonesia yang heterogen ini. Dan menurut pendapat saya, kurang tepat jika mengatakan pemerintahan sekarang itu seperti “YOYO”. Atas dasar riset apa orang yang katanya Negarawan mengatakan seperti itu? Apakah ini merupakan sebuah “seni” politiknya dalam rangka menarik simpati masyarakat tetapi dengan cara menjelek-jelekan pemerintahan sekarang? Lantas apakah “Wong Cilik” itu benar-benar dia bela serta diperjuangkan ketika masa pemerintahannya dulu? Jawabnya : ada tangan rakyat Indonesia itu sendiri. Rakyat sekarang sudah cerdas dan dewasa dalam menilai.
Intinya, saya hanya memberikan masukan bahwa seyogyanya seorang Negarawan itu mempunyai etika politik yang arif dan bijaksana sehingga jauh dari kesan menjelek-jelekan lawan politiknya. Ingat, bahwa seorang Negarawan sejati itu akan memberikan yang terbaik untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara tanpa memandang asal Partai Politik, Agama, Ras dan Suku bangsa.
Semoga tulisan sederhana ini akan menjadi sebuah penyejuk dalam menghadapi suhu politik yang kian memanas menjelang Pemilu 2009 ini.


Read More......

Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber

Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber
(Okasatria Novyanto)

Liburan semester tak terasa sudah akan berlalu. Pengalaman manis berkumpul bersama keluarga masih hangat saya rasakan. Tawa dan kebersamaan anggota keluarga seakan-akan meluluhkan kepenatan selama kuliah di Teknik Mesin ITS yang sangat menyita waktu dan tenaga. Kelurahan Kalibeber yang saya lihat kemarin ternyata sudah berkembang menjadi sebuah kota kecamatan yang maju dan modern dimana disana ada sebuah pondok pesantren terkenal yakni Al Asy’ariah dan sebuah universitas swasta UNSIQ. Namun ada sebuah kesedihan yang mendalam dihati saya, yakni kini sawah-sawah dan lahan pertanian produktip lainnya sudah mulai tergusur dan berubah fungsi menjadi bangunan beton. Dulu ketika saya kecil, persawahan merupakan tempat favorit kami untuk bermain perang-perangan lumpur, mencari ikan “gondhok”, mencari ketela untuk dibakar, bermain layangan, dll. Tapi sepertinya kini semua itu hanya akan menjadi sebuah cerita saja karena persawahan kini sudah disulap menjadi bangunan beton yang kedap air. Kondisi ini bila tidak dikendalikan dan diantisipasi sejak dini akan menjadi sebuah “Bom Waktu” yang justru akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Saya memang tidak punya data riset tentang berapa Hektar lahan persawahan dan lahan pertanian produktip lainnya yang telah meyusut dan berubah fungsi menjadi bagunan beton (perumahan) di kelurahan Kalibeber. Namun seyogyanya pemerintah, baik pemerintahan Desa maupun pemerintahan Kabupaten memperhatikan “fenomena” ini. Memang secara teoritis biasanya pertambahan jumlah penduduk itu akan mempersempit lahan pertanian dan persawahan serta akan menambah permasalah sosial lainnya (misalnya : masalah sampah, sanitasi, ketersediaan lapangan pekerjaan, dll). Namun bukan berarti hal ini tidak dapat dikendalikan dan kita membiarkan begitu saja alias pasrah dengan kondisi ini dan berdiam diri. Saya yakin, pemerintah (baik Desa maupun Kabupaten) sebagai sebuah institusi yang mempunyai kekuasaan yuridis mampu untuk mengendallikan kondisi ini sehingga alih fungsi lahan pertanian dan persawahan menjadi bangunan beton dapat dikendalikan baik laju perubahan maupun luas arealnya. Sehingga diharapkan akan tetap ada keseimbangan antara ketersediaan pangan bagi masyarakat dengan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Disisi lain, saya juga mengharapkan adanya peranan, partisipasi aktif dan sumbangsih pemikiran dari UNSIQ sebagai satu-satunya Universitas di Wonosobo agar dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam menyikapi permasalah ini maupuan permasalahan sosial lainnya. Memang permasalahan ini belum secara frontal muncul ke permukaan, tapi saya takut ini akan menjadi “Bom Waktu” dikemudian hari. Sumbangsih pemikiran serta kerjasama yang harmonis antara kalangan akademisi, pemerintah dan masyarakat saya yakin akan memberikan kemaslahatan yang besar bagi masyarakat kalibeber pada khususnya dan masyarakat Wonosobo pada umumnya.

Read More......

Friday, January 16, 2009

Pembangunan Jembatan Suramadu Tinggal 38 Meter

Surabaya - Selama ini, perkembangan pembangunan Jembatan Suramadu hanya bisa diikuti dari jauh. Pengambilan foto-foto juga dilakukan dari jarak jauh. Karena itu, masyarakat tidak tahu sampai di mana perkembangan pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Madura itu.Minggu siang (28/12), helikopter Jawa Pos memantau langsung dari dekat. Heli tersebut membawa fotografer dan wartawan Jawa Pos serta Management Information System Engineer Satker Pembangunan Suramadu Ashari.
Meski terkendala adanya awan tipis di sekitar lokasi proyek, detail-detail perkembangan pembangunan jembatan terpanjang ke-15 di dunia itu bisa terekam.Heli beberapa kali mengelilingi semua sisi proyek. Mulai sisi utara, selatan, sisi Surabaya, maupun sisi Madura. Dan tentu saja dari atas. Saat itu, ratusan pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembangunan yang diperkirakan tinggal tersisa 10 persen tersebut.
Jembatan Suramadu terdiri atas tiga bagian. Yakni, main bridge (bentang tengah), causeway (jalur pendekat antara jembatan dan daratan), serta approach bridge (jembatan penghubung antara main bridge dan cause way).Bentang tengah sepanjang 818 meter. Causeway terdiri atas dua sisi. Yakni, sisi Surabaya (1.458 meter) dan sisi Madura (1.818 m).
Sedangkan approach bridge masing-masing sisi sepanjang 672 meter. Karena panjangnya jembatan, jumlah pilarnya mencapai 102 buah.Dari hasil pengamatan udara, bagian yang pembangunannya nyaris tuntas adalah causeway. Di dua sisi (baik Surabaya maupun Madura), hampir semua tahap pekerjaan sudah selesai. Aspal sudah terlihat mulus. Markah maupun utilitas jalan (lampu penerangan) juga sudah terpasang. Kalaupun ada yang belum selesai, itu hanya sebagian. Untuk causeway sisi Surabaya misalnya, yang saat ini masih dalam tahap pekerjaan, antara lain, penyelesaian oprit (pertemuan antara jalan akses dengan jembatan).
Selain itu, pada bagian tersebut, pelaksana proyek masih harus merampungkan sebagian lantai yang belum terpasang pada akses untuk sepeda motor, terutama di sisi selatan.Untuk diketahui, jembatan yang pembangunannya menelan biaya Rp 4,5 triliun tersebut nanti menyediakan akses khusus sepeda motor. Letaknya di sisi kanan dan kiri jembatan. Lebar masing-masing 2,75 meter. Total lebar jembatan mencapai 30 meter (2 x 15 meter). Di tiap jalur (arah Surabaya maupun arah Madura) akan ada jalur lambat masing-masing berukuran 2,2 meter. Kemudian, di tiap jalur akan ada dua jalur cepat yang masing-masing selebar 3,5 meter.
Sementara itu, pekerjaan yang tersisa pada causeway sisi Madura, antara lain, berupa penyelesaian overpass dan jalan akses. ''Secara teknis, pembangunan causeway sudah pada angka 99,8 persen,'' kata Ashari yang selama di udara terus memberikan penjelasan tentang detail jembatan. Di bagian main bridge, saat ini sedang dipasang alas jembatan berupa steel box girder (SBG) di atas dua pilar (yakni pilar ke-46 dan ke-47) yang menjadi penumpu bagian tersebut. SBG itu merupakan segmen lantai pada main bridge. Masing-masing sepanjang 12 meter dengan berat 160 ton tiap segmennya. Total keseluruhan 818 meter. SBG merupakan ''lantai'' jembatan yang berbahan dasar baja. Pembuatan dilakukan di Tiongkok. Di antara total 18 segmen, yang sudah terpasang di dua pilar adalah 14 buah. Sisanya tinggal empat segmen atau sekitar 38 meter. Pengerjaan yang tergolong sulit tinggal di SBG ini. Sisanya, meski ada beberapa yang juga belum tuntas, seperti pada causeway, namun hal itu tidak terlalu menyulitkan. Sebab, semua sudah tersedia dan tinggal pasang.Segmen SBG yang masih dalam tahap pengerjaan saat ini adalah segmen 14-17 plus satu segmen closure (sambungan akhir/ penutup). ''Kami targetkan akhir Januari 2009 sudah bisa nyambung,'' ujar Arief Mustofa, chief inspector main bridge Satker Proyek Suramadu, yang dikonfirmasi terpisah.Bila seluruh SBG tersebut terpasang, bisa dikatakan salah satu pekerjaan terberat sudah selesai. Bagaimana tidak. Selain pembuatannya harus dilakukan di Tiongkok, pengirimannya memakan waktu cukup lama. Pengiriman dari Tiongkok dilakukan empat kali selama 30 hari. Itu pun masih harus dirakit lagi di Gresik.Selain itu, pekerjaan lain di bentang tengah berupa pemasangan kabel yang menyangga SBG di kedua pilar. Masing-masing, yang mengarah ke sisi Surabaya sudah terpasang 2 x 14 kabel (dari total 36 kabel), arah Madura juga 2 x 14 kabel (dari total 36 kabel). Secara teknis, kabel itulah yang akan menjadi penyangga utama lantai SBG di bagian main bridge. Pemasangannya juga tidak gampang. Sebab, setelah dipasang, pelaksana proyek harus dua kali menarik kabel. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa kabel tersebut benar-benar kuat menyangga SBG. Sementara itu, bagian yang pembangunannya paling lambat adalah bagian approach bridge. Di sisi Madura, misalnya. Sesuai desain, ada tujuh bentang yang dipasang di atas sembilan pilar. Masing-masing bentang berbahan dasar beton pre-stressed. Tiap bentang beton sepanjang 80 meter.Dari pantauan via helikopter, seluruh bentang memang sudah terpasang di semua pilar. Hanya, pada masing-masing bentang masih belum tersambung satu sama lain. Yang masih harus dilakukan adalah pemasangan lantai concrete box girder yang akan menjadi penyambung.Pembangunan approach bridge di sisi Surabaya lebih lambat. Dari total tujuh bentang sepanjang 672 meter yang akan dipasang di atas sembilan pilar, belum terlihat alas jembatan yang terpasang di atas pilar-pilar tersebut. Ashari lalu menjelaskan secara teknis progress report bagian itu. Pelaksanaan fisik di sisi Madura sebagai berikut. Pengecoran box girder (alas jembatan) sudah mencapai 56,9 persen. Saat ini, proses yang sedang dilakukan adalah pengecoran alas jembatan berupa concrete box girder pada pilar 49 sampai 56. Sedangkan penyelesaian pilar sudah 100 persen.Untuk sisi Surabaya, pekerjaan yang tengah dilakukan berupa pengecoran beberapa pilar yang belum tuntas. Sampai saat ini, pengecoran yang sudah selesai adalah pilar ke 37-44 plus pilar 45 dan 48.
Beragam Kesulitan
Jika dihitung mundur, proyek tersebut sebenarnya dimulai sejak Agustus 2003. Artinya, butuh waktu lima tahun agar proyek tersebut mencapai 90 persen. Tentu bukan waktu yang singkat untuk sebuah proyek jembatan. Pelaksana proyek mengaku, pengerjaan jembatan sepanjang 5,438 km itu memang cukup lama. Hal tersebut tidak terlepas dari beragam kendala yang muncul di sela-sela pembangunan. Salah satu yang paling menghambat adalah masalah perubahan detail desain Suramadu. Antara 2003 sampai 2006, tercatat ada dua kali revisi.Pada awal pelaksanaan proyek, desain berasal dari Departemen Kimpraswil. Namun, setelah itu, pemerintah Tiongkok serta Bank Exim of China yang menjadi investor Suramadu minta dilakukan perubahan desain. Dengan demikian, dilakukanlah design proof check. Hasilnya, ada beberapa perubahan. Terutama untuk fondasi. Rancangan awal, fondasi approach bridge hanya berdiameter 100 cm dengan tinggi 45 meter. Namun, setelah dilakukan DED (detail engineering design) oleh CCC (China Consortium of Chinese Contractor), diubah menjadi berdiameter 180 cm dan 220 cm. Untuk tinggi, di sisi Surabaya ditetapkan 61-93 meter dan sisi Madura 73-94 meter.Demikian pula dengan main bridge. Rancangan fondasi awal berdiameter 100 cm dengan tinggi 46-52 meter. Setelah itu, diubah menjadi diameter 240 cm dengan tinggi 81,5 meter untuk sisi Surabaya dan 83,5 untuk sisi Madura. ''Termasuk, masalah soil investigation (uji kontur tanah) diubah total. Imbasnya, dari hasil penelitian itu, banyak bagian jembatan yang harus diubah,'' kata Ashari.
Problem lain yang membuat pelaksanaan proyek Suramadu agak tersendat adalah pembuatan fondasi di tiap bagian. Hal itu tidak terlepas dari kesulitan pelaksana proyek untuk mengetahui kondisi tanah di bawah laut Surabaya-Madura.Dia mencontohkan saat pemasangan casing (tempat khusus untuk masuknya fondasi) ke dasar laut. Tiba-tiba saja struktur tanah di bawah berubah. Alhasil, casing pun harus dibongkar lagi. Malahan, kalau telanjur dicor, cor itu terpaksa dipereteli.Selain itu, masalah yang cukup pelik adalah sulitnya membuat fondasi. Terutama di sisi approach bridge Surabaya. Di antara sembilan fondasi pilar yang sudah dipasang, ada beberapa pilar yang harus dibongkar lagi oleh pelaksana proyek. Gara-garanya, fondasi itu dianggap tidak lulus uji kelayakan.Dalam pembuatan fondasi, pelaksana proyek menetapkan prosedur uji kelayakan (remidi). Salah satu yang jadi tolok ukur adalah soliditas (kepadatan) fondasi. Metode yang dipakai adalah ultrasonic test (tes melalui gelombang suara lewat alat khusus yang dipasang di fondasi). Dari metode itu, bisa diketahui apakah fondasi sudah sempurna atau belum. ''Dari situ, ternyata ada beberapa fondasi approach di Surabaya yang harus dibongkar lagi. Malahan, ada fondasi yang terpaksa dibongkar beberapa kali,'' katanya.Meski demikian, saat ini semua sudah selesai. Praktis, pekerjaan yang memakan waktu tinggal penyelesaian bagian di main bridge.Guna mencapai target penyelesaian, pekerjaan jembatan terus dikebut. Total, ada 300 pekerja yang dibagi dalam dua sif. ''Hanya, terkadang kami sering terkendala cuaca yang tidak memungkinkan atau embusan angin kencang. Jika sudah begitu, mau tidak mau pekerjaan harus dihentikan sementara,'' jelasnya.Jika ditotal secara keseluruhan, saat ini progress report proyek Suramadu sudah mencapai 90 persen. Pelaksana proyek Suramadu optimistis semua pekerjaan bisa dituntaskan pada akhir Maret 2009. ''Target awal kami tetap. Harapannya, April sudah harus bisa dioperasikan,'' ujar Kepala Balai Besar Jalan dan Jembatan Nasional V A.G Ismail. (jawapos)

Read More......

Sunday, December 28, 2008

STOP ATTACK

PENYERANGAN ISRAEL = KEJAHATAN KEMANUSIAN
(Oleh Okasatria Novyanto)


Inna Lilahi Wa Inna Illaihi Roji’un
Hari ini, hampir semua media massa baik dalam negeri maupun luar negeri sedang memberitakan tentang penyerangan membabi buta Israel atas tanah Palestina. Disana, ratusan warga sipil menjadi sasaran muntahan puluhan Ton amunisi Israel. Sungguh suatu perbuatan Biadap dan tidak mengenal perikemanusian.
Saya memang tidak bisa berbuat banyak untuk saudara-saudara saya di Palestina. Tapi setidaknya saya tidak berpangku tangan dengan hanya menjadi penonton atas tangisan dan ratapan ketakutan jutaan rakyat palestina yang sampai detik ini masih menahan perihnya luka, panasnya api, betapa sakitnya ketika meregang nyawa, kepanikan yang teramat sangat dibawah desingan senapan, dll. Dimanakah nurani kita ketika jutaan warga sipil palestina menjadi sasaran pembantaian serdadu Israel dan kita disini justru tengah asyik mempersiapkan pergantian tahun baru masehi 2009? Apakah ini sebuah “kado Istimewa” untuk saudara-saudara kita di Palestina pada penghujung tahun 2008? Sungguh Israel itu kejam, terkutuk dan tak berperikemanusian.

Melalui media ini, saya menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk bahu membahu membantu saudara-saudara kita di Palestina sebagaimana petunjuk dan arahan dari pemerintah Repubik Indonesia, yakni dapat berupa obat-obat, uang, bahan makanan, dll. melalui lembaga yang resmi dan dapat dipertanggungjawabkan, seperti PMI, Mer-C, dll. Dan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan anarkis sehingga justru menimbulkan dampak negatip yang lebih meluas lagi.

Salam Perdamaian dari saya untuk tanah Palestina !!




Read More......

Friday, September 26, 2008

Selamat Idul Fitri 1429 H

Read More......