Saturday, September 20, 2014

Friday, June 14, 2013

Peringatan Hari Metrologi Dunia 2013


Created by Iip Ahmad Rifa'i
Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Friday, July 31, 2009

SMA Negeri 2 Wonosobo Berduka [Berita Lelayu]

Inna Lilahi Wa Inna Ilaihi Roji'un

Tadi Malam saya Menerima Berita dari seorang Sahabat bahwa Bapak Slamet Sukarno (Mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Wonosobo) telah Meninggal Dunia pada Hari Jum'at 31 Juli 2009 Pukul 19.00 WIB.

Semoga Amal Ibadah Beliau diterima disisi-Nya dan Segala dosa serta kesalahan beliau diampuni oleh-NYA.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan kesabaran.

Dan kami mewakili Alumni SMA Negeri 2 Wonosobo turut Berbela sungkawa atas meninggalnya Beliau. Semoga Allah Subkhanahu Wata'ala memberikan tempat yang terbaik disisinya, Amin..Amin... Ya Robbal 'alamin.

Saturday, April 11, 2009

Sepenggal Kisah di SMA Negeri 2 Wonosobo (2002)

Untuk Dikenang


Ingat Aku, Saat Kau Lewati………
Jalan Ini, Setapak Berbatu.
Kenang Aku, Bila Kau Dengarkan……
Lagu Ini, Terlantun Perlahan

Barisan Puisi Ini …..
Adalah Yang Aku Punya ……
Mungkin Akan Kau Lupakan ……
Atau Untuk Dikenang.

Ingat Aku Bila Kau Terasing……..
Dalam Gelap Keramaian Kota

Tulisan DariKu Ini……
Mencoba Mengabadikan …….
Mungkin Akan Kau Lupakan ……
Atau Untuk Dikenang.

Doakanlah Aku Malam Ini
Sebelum Kau, Mengarungi Malam



video

Wednesday, April 1, 2009

Selamat Jalan Sang Veteran

Selamat Jalan Sang Veteran Perang Kemerdekaan RI
(Sebuah kalimat perpisahan terakhir untuk sang Kakek tercinta Saim Bin Sawentaram)



Sore itu, langit Surabaya tampak cerah dan terang sekali. Tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda ada panggilan masuk. “Ka, oka. Ini Oka kan?”. Aku sepertinya mengenali suara itu dan aku jawab “Ada apa, mas!”. “Simbah (kakek) sudah tidak ada, Ka!” begitu katanya. Langsung aku merasa “gelap”, bingung, kaget, dll. campur jadi satu. Dan langsung malam itu juga aku pulang ke Kutoarjo, Purworejo. Aku tidak peduli lagi dengan adanya Quis Mekanika Fluida Lanjut dari Profesor Triyogi Yuwono untuk hari selasa esok, pokoknya aku harus pulang segera! Begitu pikirku.
Keesokan harinya, aku sudah sampai di Kutoarjo. Didepanku ada sesosok jasad yang sudah kaku dan sebentar lagi beliau akan dikebumikan. Kami sekeluarga sudah ikhlas dan ridho bila beliau dipanggil oleh-Mu ya Allah. Meski Rasa sedih, haru, ikhlas, dll. tumpah jadi satu, inilah sebuah takdir yang harus aku terima dengan lapang dada dan “legowo”.
Tidak terasa 24 tahun aku sudah mengenalmu, kakek. Selama itu pula aku belajar banyak hal akan makna kehidupan ini. Mulai dari ilmu agama Islam, jiwa dagang, cara bercocok tanam, sosial kemasyarakatan, dll. Aku masih ingat betul dan itu pasti akan selalu kuingat saat-saat dimana kita masih hidup dibawah garis kemiskinan. Kala itu aku masih kecil, aku ingat betul ketika kakekku bekerja dari pagi sampai larut malam jualan es lilin, rokok dan makanan kecil di depan gedung bioskop sawunggalih Kutoarjo (sekarang sudah tidak ada lagi). Aku tahu bahwa sebenarnya engkau sangat lelah dan ingin istirahat meski barang sesaat, kek. Namun, karena kerasnya hidup dan demi sesuap nasi serta agar dapur tetap mengepul, seakan-akan engkau tidak mengenal kalimat lelah lagi. Memang sesekali aku menggantikan jaga warungmu, kek. Tapi namanya juga anak kecil, aku justru sering mengambil makanan ataupun Es Lilin yang kau jual. Tapi anehnya, kau tidak pernah memarahi aku barang sekalipun karena engkau memaklumiku sebagai anak kecil saat itu.
Tahun 1986-2005, kau tidak pernah berharap terlalu banyak untuk diakui Negara sebagai seorang Pejuang RI (Veteran) sehingga setiap bulannya akan dapat tunjangan. Namun, ternyata Allah Maha Adil, karena seiring dengan jalannya waktu kami mengalami perbaikan ekonomi setahap demi setahap sampai kecukupan rizki seperti sekarang ini. Kala itu, kau selalu mengajarkan dan menanamkan kesabaran, tawakal dan pantang menyerah kepadaku dengan cara “mendongengkan cerita” setiapkali aku duduk dipangkuanmu, kek.
Kini, umurmu sudah 90 tahun. Dulu ketika aku masih baru saja memulai "penjelajahan dunia", aku selalu berdoa kepada Allah agar aku dapat kembali ke Pulau Jawa ataupun ke Indonesia sehingga ketika diakhir hayatmu aku paling tidak bisa berbakti kepadamu, baik dalam bentuk materi maupun kesempatan untuk merawatmu secara langsung karena sudah lanjut usia. Kini Doa itu sudah terjawab, meski hanya 2 tahun aku dapat merawatmu secara langsung ketika engkau sudah mulai udzur dan Pikun, aku sudah ikhlas dan legowo melepas kepergianmu, kakek. Semoga Allah Subhanahu Wa ta’la mengampuni segala dosa dan kesalahan kakekku, Amin.
Dalam kesempatan ini, saya mewakili keluarga besar Saim Bin Sawentaram mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada masyarakat Gang Koplak Semawung Daleman, Para tukang penggali Makam, Aparat pemerintahan kelurahan Semawung Daleman-Kutoarjo, Legiun Veteran RI, Koramil Kutoarjo, Polsek Mojotengah-Wonosobo, Dinas Pertanian Wonosobo, Masyarakat Mekarsari-Kalibeber, dll. yang telah bahu membahu secara gotong royong mengurus pemakaman kakek kami tercinta. Semoga Allah membalas kebaikan hati anda, Amin.

Saturday, January 31, 2009

Wong Cilik itu siapa, bOZ?

Siapa “WONG Cilik” itu ?
(Oleh Okasatria Novyanto)

Pemilu 2009 sudah didepan mata. Suhu politik tanah Air kian memanas. Aroma dan nuansa saling menjelek-jelekan antar lawan politik juga kian terasa. Hanya yang menjadi sebuah pertanyaan adalah apakah rakyat Indonesia sekarang masih mau dibodohi seperti dulu? Dulu, dengan Jargon “Wong Cilik” memang mampu mampu mengantarkannya ke singgasana pemerintahan. Namun kita juga harus mengakui bahwa pada masa pemerintahannya itu perguruan-perguruan tinggi Negeri ternama seperti UGM, UI dan ITB sudah mulai berubah menjadi BHMN dimana biaya kuliah mulai mahal sehingga akses rakyat miskin yang katanya “Wong Cilik” itu susah untuk melanjutkan kuliah dan kesulitan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Pada masa pemerintahannya pula banyak BUMN yang diprivatisasi dengan alasan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Selain itu pula satu hal yang membuat saya menangis adalah adanya pertumpahan darah di Tanah Rencong yang telah merengut ratusan nyawa saudara-saudara kami baik warga Aceh maupun anggota TNI-POLRI yang gugur di medan tugas, penanganan Illegal Logging dan Illegal Fishing yang belum jelas hasilnya, dll. Namun disisi lain, ternyata banyak juga prestasi yang ditorehkan pada pemerintahannya, misalnya : diawalinya pembangunan jembatan SURAMADU, mulai diberantasnya dan diburunya para Koruptor yang memakan uang Negara (Rakyat), program Sembako Murah, program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan masih banyak prestasi positip lainnya.
Namun apakah pemerintahan yang sekarang ini lantas tidak berhasil? Saya kira tidak. Banyak prestasi positip yang telah diberikan oleh pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu ini, misalnya : Terwujudnya perdamaian di Bumi Serambi Mekah sehingga pertumpahan darah dapat dihentikan, dilanjutkannya program pemberantasan korupsi (jelas arah dan hasilnya), hampir selesainya pembangunan jembatan SURAMADU, dimulainya program percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan untuk kawasan Batam, Bintan, dll. Disamping itu juga adanya perbaikan dan peningkatan kualitas aparatur pemerintahan dalam pelayanannya kepada masyarakat (untuk tidak melakukan PUNGLI) termasuk juga pelayanan POLRI kepada masyarakat, program RASKIN, program modernisasi sistem ALUTISTA TNI, dan masih banyak prestasi positip lainnya. Namun, jangan lupa bahwa pada pemerintahan sekarang itu juga masih ada raport merah yang perlu diperbaiki lagi, misalnya : belum tuntasnya pemberantan Illegal Logging dan Illegal Fishing, Biaya kuliah dan pendidikan yang masih tetap tinggi sehingga akses rakyat miskin untuk mengenyam tingkat pendidikan yang lebih tinggi itu masih tetap terbatas, program konversi minyak tanah ke Gas yang terkesan dipaksakan sehingga dampak positip program ini kurang dirasakan oleh masyarakat, dll.
Jadi intinya setiap masa pemerintahan itu punya “seni” tersendiri dalam mengatur dan membangun masyarakat Indonesia yang heterogen ini. Dan menurut pendapat saya, kurang tepat jika mengatakan pemerintahan sekarang itu seperti “YOYO”. Atas dasar riset apa orang yang katanya Negarawan mengatakan seperti itu? Apakah ini merupakan sebuah “seni” politiknya dalam rangka menarik simpati masyarakat tetapi dengan cara menjelek-jelekan pemerintahan sekarang? Lantas apakah “Wong Cilik” itu benar-benar dia bela serta diperjuangkan ketika masa pemerintahannya dulu? Jawabnya : ada tangan rakyat Indonesia itu sendiri. Rakyat sekarang sudah cerdas dan dewasa dalam menilai.
Intinya, saya hanya memberikan masukan bahwa seyogyanya seorang Negarawan itu mempunyai etika politik yang arif dan bijaksana sehingga jauh dari kesan menjelek-jelekan lawan politiknya. Ingat, bahwa seorang Negarawan sejati itu akan memberikan yang terbaik untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara tanpa memandang asal Partai Politik, Agama, Ras dan Suku bangsa.
Semoga tulisan sederhana ini akan menjadi sebuah penyejuk dalam menghadapi suhu politik yang kian memanas menjelang Pemilu 2009 ini.


Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber

Sawah Vs Hutan Beton di Kalibeber
(Okasatria Novyanto)

Liburan semester tak terasa sudah akan berlalu. Pengalaman manis berkumpul bersama keluarga masih hangat saya rasakan. Tawa dan kebersamaan anggota keluarga seakan-akan meluluhkan kepenatan selama kuliah di Teknik Mesin ITS yang sangat menyita waktu dan tenaga. Kelurahan Kalibeber yang saya lihat kemarin ternyata sudah berkembang menjadi sebuah kota kecamatan yang maju dan modern dimana disana ada sebuah pondok pesantren terkenal yakni Al Asy’ariah dan sebuah universitas swasta UNSIQ. Namun ada sebuah kesedihan yang mendalam dihati saya, yakni kini sawah-sawah dan lahan pertanian produktip lainnya sudah mulai tergusur dan berubah fungsi menjadi bangunan beton. Dulu ketika saya kecil, persawahan merupakan tempat favorit kami untuk bermain perang-perangan lumpur, mencari ikan “gondhok”, mencari ketela untuk dibakar, bermain layangan, dll. Tapi sepertinya kini semua itu hanya akan menjadi sebuah cerita saja karena persawahan kini sudah disulap menjadi bangunan beton yang kedap air. Kondisi ini bila tidak dikendalikan dan diantisipasi sejak dini akan menjadi sebuah “Bom Waktu” yang justru akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Saya memang tidak punya data riset tentang berapa Hektar lahan persawahan dan lahan pertanian produktip lainnya yang telah meyusut dan berubah fungsi menjadi bagunan beton (perumahan) di kelurahan Kalibeber. Namun seyogyanya pemerintah, baik pemerintahan Desa maupun pemerintahan Kabupaten memperhatikan “fenomena” ini. Memang secara teoritis biasanya pertambahan jumlah penduduk itu akan mempersempit lahan pertanian dan persawahan serta akan menambah permasalah sosial lainnya (misalnya : masalah sampah, sanitasi, ketersediaan lapangan pekerjaan, dll). Namun bukan berarti hal ini tidak dapat dikendalikan dan kita membiarkan begitu saja alias pasrah dengan kondisi ini dan berdiam diri. Saya yakin, pemerintah (baik Desa maupun Kabupaten) sebagai sebuah institusi yang mempunyai kekuasaan yuridis mampu untuk mengendallikan kondisi ini sehingga alih fungsi lahan pertanian dan persawahan menjadi bangunan beton dapat dikendalikan baik laju perubahan maupun luas arealnya. Sehingga diharapkan akan tetap ada keseimbangan antara ketersediaan pangan bagi masyarakat dengan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Disisi lain, saya juga mengharapkan adanya peranan, partisipasi aktif dan sumbangsih pemikiran dari UNSIQ sebagai satu-satunya Universitas di Wonosobo agar dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam menyikapi permasalah ini maupuan permasalahan sosial lainnya. Memang permasalahan ini belum secara frontal muncul ke permukaan, tapi saya takut ini akan menjadi “Bom Waktu” dikemudian hari. Sumbangsih pemikiran serta kerjasama yang harmonis antara kalangan akademisi, pemerintah dan masyarakat saya yakin akan memberikan kemaslahatan yang besar bagi masyarakat kalibeber pada khususnya dan masyarakat Wonosobo pada umumnya.